Ekonomi

Pengamat Wanti

Jakarta, Maret.id — Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan salah satu tantangan utama dari rencana konsolidasi BUMN adalah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pernyataan disampaikan di Jakarta pada Senin, 29 Juni 2026.

“Ada potensi PHK akibat konsolidasi tersebut, karena berimplikasi pada pengurangan jumlah BUMN,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Meski demikian, Herry mengapresiasi janji Danantara yang menyatakan proses konsolidasi tidak akan disertai PHK.

“Danantara sudah berjanji tidak ada PHK dalam konsolidasi. Janji ini baik, tapi memberikan potensi tantangan yang harus dihadapi, yakni beratnya beban operasional perusahaan hasil penggabungan. Sehingga, keinginan BUMN hasil konsolidasi lebih efisien jadi lebih sulit,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Herry juga menyoroti potensi membengkaknya beban keuangan perusahaan yang ditunjuk sebagai entitas penerima penggabungan.

“Ambil contoh kasus Pertamina Patra Niaga yang ditunjuk sebagai perusahaan penerima penggabungan sebagai holding hilir Pertamina. Perusahaan itu harus menerima Kilang Pertamina yang bukunya merugi besar, sehingga penggabungan itu akan memberikan tantangan yang sangat serius pada kinerja Pertamina Patra Niaga yang selama ini selalu positif dan berkontribusi besar bagi holding,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Karena itu, Herry meminta pemerintah dan Danantara tidak hanya berfokus pada proses penggabungan, tetapi juga menyiapkan langkah mitigasi agar konsolidasi tidak menimbulkan persoalan baru.

“BUMN maupun anak usahanya yang akan dikonsolidasikan perlu melakukan restrukturisasi keuangan sebelum penggabungan. Kalau tidak, nanti bisa menjadi virus bagi perusahaan yang sehat,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Ia juga mengingatkan Danantara agar tidak lepas tangan setelah proses konsolidasi rampung.

“Danantara harus turut mengawal dan bertanggung jawab terhadap dampak yang timbul akibat konsolidasi tersebut, sehingga bisa menyiapkan mitigasi risiko jika sudah ada tanda-tanda akan menimbulkan masalah serius. Jangan tunggu jadi masalah dulu,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Selain itu, Herry menilai BUMN atau anak usaha yang sudah tidak memiliki prospek perbaikan sebaiknya ditutup agar tidak terus menjadi beban keuangan negara.

“Untuk BUMN atau anak usaha BUMN yang memang sudah tidak layak dibenahi, sebaiknya ditutup. Jangan biarkan jadi beban berkepanjangan,” kata Herry Gunawan, Direktur NEXT Indonesia Center.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button