Dividen Jumbo RANS Jadi Sorotan, Dampak ke Valuasi IPO

Jakarta, Maret.id — RANS dijadwalkan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026 setelah masa penawaran umum berlangsung pada 2–8 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp170 per saham. Sejumlah aspek fundamental perusahaan, termasuk kebijakan pembagian dividen kepada pemegang saham lama, menjadi sorotan menjelang pencatatan saham tersebut. Pendiri sekaligus analis bisnis Raymond Chin menyatakan kebijakan pembagian dividen itu sah menurut hukum namun tetap perlu dicermati oleh calon investor. “Yang menarik, walaupun angkanya keren menunjukkan perusahaan sehat bagi dividen, profit bersihnya RANS di tahun yang sama sebenarnya cuma Rp56 miliar. Jadi kenapa mereka bagi dividen tiga kali lipat dari laba setahunnya dan ini ke pemegang saham lama sebelum IPO? Dan ini enggak ilegal kok,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis. Pernyataan tersebut disampaikan dalam podcast yang dikutip pada Jumat 3 Juli 2026. Manajemen RANS dalam prospektus menjelaskan dividen dibagikan menggunakan akumulasi laba ditahan dari tahun-tahun sebelumnya, bukan semata-mata dari laba tahun berjalan. “Yang kita mau bedah, perusahaan ini IPO buat benar-benar grow bisnisnya atau yang jadi ketakutan — semoga enggak terjadi — buat exit secara berencana. Tapi kita jangan berspekulasi, kita bedah dulu,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis. Raymond menilai masih banyak masyarakat yang menganggap RANS hanya sebatas kanal YouTube milik Raffi Ahmad. Ia menjelaskan RANS memiliki empat lini usaha utama, yakni produksi dan distribusi konten media, pengelolaan intellectual property (IP), aktivasi komersial seperti event dan hiburan, serta bisnis pendukung dan investasi strategis. Melalui ekosistem tersebut RANS telah memiliki 11 entitas anak dan empat entitas asosiasi yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari periklanan, kosmetik, makanan dan minuman, restoran hingga taman hiburan. Aset terbesar perusahaan menurut Raymond bukan gedung atau mesin, melainkan basis audiens yang mencapai sekitar 155 juta pengikut di berbagai platform media sosial. “Logika simpelnya, Raffi sama Nagita sudah membangun jalan tol yang gede banget. Sekarang setiap orang yang lewat jalan itu bayar tolnya lewat bisnis event, IP, kosmetik, kuliner sampai brand deals,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis. “Karakter Cipung menjadi contoh bagaimana perhatian publik berhasil diubah menjadi sumber pendapatan melalui serial, lisensi, sponsor, event hingga berbagai produk turunan,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis. Raymond menyoroti perjalanan RANS yang dimulai pada 2015 dari garasi rumah Raffi Ahmad di Andara. Menurutnya ide awal justru datang dari Nagita Slavina yang lebih dahulu melihat potensi besar YouTube dan media digital. Perusahaan kemudian berkembang dari hanya tiga orang menjadi ratusan karyawan. Tonggak penting terjadi pada 2021 ketika Grup Emtek melalui PT Indonesia Entertainment Group menginvestasikan sekitar Rp248 miliar dan menguasai sekitar 17 persen saham RANS. “Yang paling penting bukan soal uangnya, tetapi validasi dari pemain media besar bahwa RANS itu bukan cuma channel artis,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis. Masuknya investor institusi menurut Raymond menunjukkan RANS dipandang sebagai perusahaan ekonomi kreator dengan model bisnis yang lebih luas dibanding sekadar mengandalkan popularitas pendirinya. “Investor tetap harus menilai prospek bisnis perusahaan secara menyeluruh, bukan hanya melihat nama besar yang berada di belakangnya,” kata Raymond Chin, pendiri sekaligus analis bisnis.





