Ekonomi

IPO RANS Jual Ekspektasi, Tekan Valuasi dan Risiko Pasar

Jakarta, Maret.id — Analis bisnis Raymond Chin menyoroti peluang dan risiko pada rencana penawaran umum perdana (IPO) RANS.

Menurutnya, rencana IPO menawarkan prospek menarik namun menyimpan sejumlah risiko yang wajib dipahami calon investor.

Laporan keuangan menunjukkan pendapatan perusahaan mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir menjadi Rp437 miliar, Rp410 miliar, lalu Rp353 miliar.

“Pendapatannya Rp437 miliar, Rp410 miliar, lalu Rp353 miliar. Jadi trennya sebenarnya lagi turun dan turunnya menurut gua enggak tipis,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Ucapan tersebut disampaikan dalam podcast-nya yang dikutip redaksi Sabtu 4 Juki 2026.

Ia menjelaskan salah satu penyebab utama adalah penurunan bisnis brand deal dan talent management yang anjlok sekitar 51 persen dari sekitar Rp100 miliar menjadi Rp51 miliar.

“Brand deal sama talent management itu bisnis yang paling align sama jalan tol traffic mereka. Kalau bisnis utamanya kena, itu sinyal yang harus diperhatikan,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Di sisi lain, Raymond menilai kondisi perusahaan belum dapat dikatakan mengkhawatirkan.

Posisi kas meningkat menjadi sekitar Rp100 miliar, total utang turun sekitar 23 persen, sementara margin laba kotor membaik hingga sekitar 43 persen.

“Apakah perusahaan mereka darurat? Enggak juga. Mereka masih doing well. Cuma sebagai investor kita harus lihat bakal grow lagi atau enggak,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Menurutnya, tantangan terbesar justru berasal dari model bisnis yang sangat bergantung pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Ia mencatat bahwa risiko tersebut bahkan disebutkan secara eksplisit oleh perusahaan dalam dokumen IPO.

“RANS secara eksplisit menulis bahwa risiko utama perusahaan adalah ketergantungan terhadap figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Gua harus appreciate karena mereka jujur,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Ia menilai reputasi atau berkurangnya aktivitas pasangan tersebut di dunia hiburan berpotensi langsung memengaruhi pendapatan dari kerja sama merek dan talent management.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, perusahaan mulai melakukan diversifikasi bisnis.

Sebagian dana hasil IPO akan dialokasikan untuk membentuk perusahaan patungan di bidang kecerdasan buatan bersama PT Fitloop Global Technology, serta untuk mengembangkan Cipungland dan penyelenggaraan konser.

“Secara strategi memang masuk akal. Mereka tahu kelemahan mereka dan mereka coba diversifikasi,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Namun Raymond mempertanyakan apakah dana IPO sekitar Rp430 miliar cukup untuk membiayai transformasi hingga menghasilkan sumber pendapatan baru yang stabil.

Dari sisi valuasi, saham RANS ditawarkan dengan price to earnings ratio sekitar 30 hingga 38 kali, jauh di atas rata-rata PER IHSG yang berada di kisaran 9,9 kali.

“Kalau berdasarkan track record menurut gua no go. Tapi kalau kalian percaya, ya itu keputusan kalian juga. Karena yang kalian beli itu ekspektasi, bukan track record,” ujar Raymond Chin, analis bisnis.

Keberhasilan IPO akan sangat ditentukan oleh kemampuan RANS membuktikan bahwa bisnis baru seperti AI, taman hiburan, konser, maupun pengembangan intellectual property mampu menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan.

“Attention economy memang besar. Tapi attention tanpa fondasi bisnis yang bagus, apalagi kalau perhatian publik itu hilang atau kepercayaan menurun, risikonya juga besar,” tutur Raymond Chin, analis bisnis.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button