OPEC+ Tambah 188 Ribu Barel/hari Mulai Agustus, Harga Stabil

Jakarta, Maret.id — OPEC+ mengumumkan akan menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026, langkah yang menandai kenaikan produksi tiga bulan berturut-turut dalam rangka mengakhiri pemangkasan produksi yang diberlakukan sejak 2023.
Keputusan itu disampaikan dalam pernyataan resmi OPEC+ yang dikutip pada Senin, 6 Juli 2026, setelah tujuh negara utama anggota aliansi meninjau kondisi serta prospek pasar minyak global. Tujuh negara tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
“Dalam komitmen kolektif untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Agustus 2026,” ujar OPEC+, aliansi produsen minyak.
Peningkatan produksi diputuskan seiring meredanya kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan akibat pulihnya ekspor melalui Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Jalur tersebut sempat terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tetapi kini telah kembali beroperasi. Selain itu, nota kesepahaman yang dimediasi Amerika Serikat antara Washington dan Teheran turut membantu menenangkan pasar.
Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent berada di sekitar 72 Dolar AS per barel. Harga ini turun jauh dibandingkan puncaknya yang sempat melampaui 120 Dolar AS per barel saat konflik memanas, sehingga kini kembali mendekati level sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.
Meski demikian, harga minyak masih mendapat tekanan dari lemahnya permintaan di China, meningkatnya produksi dari negara-negara di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi oleh International Energy Agency (IEA).
Sejak April, tujuh negara utama OPEC+ telah mengembalikan hampir 800.000 barel per hari produksi yang sebelumnya dipangkas. Namun produksi riil masih belum sepenuhnya kembali ke tingkat sebelum konflik karena gangguan ekspor dari kawasan Teluk sempat mengurangi pengiriman minyak dari sejumlah produsen utama.
“Negara-negara tersebut akan terus memantau dan menilai kondisi pasar dengan cermat, serta mempertahankan fleksibilitas penuh untuk meningkatkan, menunda, atau membalikkan penghapusan penyesuaian produksi sukarela,” ujar OPEC+, aliansi produsen minyak.
Para investor kini akan mencermati apakah pemulihan ekspor minyak, perkembangan permintaan global, dan keputusan OPEC+ pada pertemuan berikutnya 2 Agustus mampu menjaga keseimbangan pasar minyak hingga akhir tahun.





