Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Implikasi Kebijakan BI

Jakarta, Maret.id — Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda melemah 44 poin atau 0,24 persen ke level Rp18.007 per dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu respons negatif pasar terhadap laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia.
Menurut Ibrahim, Fitch melihat pelemahan tersebut tercermin dari depresiasi rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga derasnya arus modal keluar.
“Perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Fitch kata Ibrahim juga mengingatkan tekanan berkepanjangan ekonomi RI berpotensi meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah.
“Lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Ia menambahkan sentimen negatif pasar juga diperparah oleh kembalinya neraca perdagangan Indonesia ke zona defisit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS setelah sebelumnya menikmati surplus selama 72 bulan berturut-turut.
“Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Untuk meredam gejolak di pasar keuangan, Bank Indonesia disebut terus meningkatkan intensitas intervensi.
Langkah stabilisasi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Rupiah akhirnya ditutup pada posisi Rp17.995 per dolar AS, turun 32 poin atau 0,18 persen dari perdagangan sebelumnya.





