Ekonomi

Wall Street Terpuruk, Saham dan Indeks Turun Imbas AS

Jakarta, Maret.id — Pada penutupan perdagangan reguler Rabu, 8 Juli 2026, waktu AS, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 576,76 poin atau 1,1 persen. Sementara itu, S&P 500 turun 0,28 persen dan Nasdaq Composite masih menguat 0,2 persen berkat kenaikan saham Nvidia dan emiten sektor semikonduktor.

“Militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap jalur pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM). Pada saat yang sama, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1 persen.

“Saya kemungkinan tidak lagi tertarik untuk melanjutkan perundingan dengan Iran,” kata Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu disampaikan di tengah eskalasi yang meningkatkan kekhawatiran pasar global.

“Gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir,” kata Presiden AS Donald Trump. Komentar tersebut muncul setelah kembali terjadi gelombang serangan di wilayah Timur Tengah.

Para investor khawatir kenaikan harga energi akan kembali mendorong inflasi dan menekan sentimen risiko pasar. Jika tekanan harga energi berlanjut, pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan para pejabat bank sentral masih terpecah mengenai waktu yang tepat untuk memangkas suku bunga,” kata Federal Reserve. Dokumen itu menekankan perlunya bukti yang lebih kuat bahwa inflasi benar-benar bergerak menuju target sebelum ada pelonggaran kebijakan moneter.

“Harga minyak masih menjadi faktor utama yang akan memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek,” kata sejumlah analis pasar modal. “Prospek pertumbuhan laba perusahaan dan kuatnya tren investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dapat menopang penguatan indeks S&P 500 hingga akhir tahun,” kata sejumlah analis pasar modal.

Dinamika tersebut mendorong investor mengambil langkah berhati-hati pada portofolio berisiko tinggi dan mengalihkan sebagian aset ke instrumen energi dan safe haven. Dampak lanjutan terhadap pasar global akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Teluk dan keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral utama.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button