Konflik AS

Jakarta, Maret.id — Harga emas terkoreksi hingga di bawah 4.100 Dolar AS per ons, diikuti perak yang turun di bawah 59 Dolar AS per ons, memperpanjang tren penurunan dari pekan sebelumnya.
Tekanan terhadap logam mulia itu dipicu oleh eskalasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran, dengan serangkaian serangan rudal dan aksi balasan termasuk yang disebut sebagai serangan AS keempat dalam sepekan terakhir terhadap Iran.
Lonjakan harga minyak dunia menyusul serangkaian serangan tersebut dan memicu kekhawatiran tentang tekanan inflasi global.
Teheran sempat mengklaim penutupan sepihak Selat Hormuz, namun klaim itu dibantah oleh Komando Pusat AS.
Kenaikan harga energi mendorong spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebelum akhir tahun.
Para pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS pekan ini.
Penampilan perdana Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS pada Selasa esok menjadi titik fokus bagi investor dalam membaca arah kebijakan moneter AS ke depan.
Akibat kombinasi faktor geopolitik dan risiko inflasi, volatilitas pada pasar komoditas diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi aliran modal serta keputusan investasi di pasar global.





