IHSG dan Rupiah Menguat Usai S&P Pertahankan Peringkat RI

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 1,6 poin atau 0,03 persen ke level 6.039 pada perdagangan terakhir.
Volume transaksi tercatat mencapai 37 miliar saham dengan nilai Rp16 triliun dan frekuensi 2,8 juta kali, sementara kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp10.550 triliun.
Sebanyak 422 saham menguat, 206 saham melemah, dan 165 saham lainnya ditutup stagnan.
Rupiah juga ditutup menguat 18 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp18.091 per Dolar AS menurut data pasar keuangan.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan Rupiah dipicu oleh melemahnya Dolar AS di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran menyusul memanasnya kembali konflik militer dengan Teheran.
Di saat yang sama, Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan mengenakan tarif sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk membiayai pengamanan jalur pelayaran tersebut.
Selain itu, militer AS disebut mulai menerapkan blokade terhadap lalu lintas kapal yang berkaitan dengan Iran meski kapal-kapal komersial dari negara netral tetap diizinkan melintas.
Ibrahim menyatakan langkah tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi dunia.
“Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.
Di dalam negeri, pelaku pasar merespon positif keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Lembaga pemeringkat internasional itu memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tiga tahun mendatang.
“Pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM),” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.
S&P menilai ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh kebijakan makro yang prudent serta rasio utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat serupa.
Lembaga itu juga mencatat kebijakan hilirisasi dan penguatan pengelolaan sumber daya mineral berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan kinerja ekspor sehingga menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi ke depan.
Meski demikian, S&P mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen pada kuartal I-2026 namun masih dibayangi volatilitas pasar keuangan selama semester pertama tahun ini.
Pasar saham tercatat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasarnya, sementara nilai tukar Rupiah sempat melemah sekitar 7 persen terhadap Dolar AS.
“Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.





