Ekonomi

Wall Street Menguat karena Inflasi AS Melandai

Jakarta, Maret.id — Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak cukup stabil setelah data inflasi Juni yang lebih rendah dari perkiraan dan laporan keuangan bank besar meningkatkan optimisme investor, meski ketegangan di Timur Tengah masih membayangi pasar.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 10,02 poin atau 0,02 persen ke 52.508,66.

Sementara S&P 500 menguat 28,55 poin atau 0,38 persen menjadi 7.543,89, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 233,83 poin atau 0,90 persen ke 26.107,01.

Penguatan Nasdaq didorong oleh rebound saham-saham teknologi dan semikonduktor, dan di antara 11 sektor utama S&P 500 sektor teknologi mencatat kenaikan terbesar sementara sektor kesehatan menjadi yang paling tertinggal.

Sentimen positif datang dari laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Juni yang menunjukkan inflasi mendingin lebih cepat dari perkiraan analis.

Data inflasi tersebut membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang suku bunga tetap dipertahankan pada pertemuan Juli meningkat menjadi 83,4 persen dari 58,3 persen sehari sebelumnya, meskipun pasar masih memperkirakan setidaknya satu kenaikan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.

Musim laporan keuangan kuartal II juga dimulai dengan hasil yang kuat dari sejumlah bank besar AS.

Goldman Sachs melonjak 9 persen setelah membukukan laba di atas ekspektasi berkat kuatnya aktivitas perdagangan dan transaksi korporasi.

JPMorgan Chase naik 2,5 persen, sedangkan Bank of America menguat 1,9 persen setelah keduanya melaporkan laba yang melampaui perkiraan analis.

Namun tidak semua emiten bergerak positif dengan Citigroup turun 5,3 persen karena investor mengkhawatirkan peningkatan belanja perusahaan meski laba melampaui ekspektasi.

Wells Fargo melemah 2,7 persen, sedangkan IBM anjlok 25,2 persen setelah memperingatkan pendapatan kuartal kedua diperkirakan berada di bawah proyeksi pasar.

Pergerakan pasar mencerminkan perpaduan antara data makro yang lebih akomodatif dan dinamika perusahaan yang bervariasi sehingga investor tetap waspada terhadap risiko geopolitik dan sinyal kebijakan moneter.

Pasar global kini menantikan rilis data ekonomi selanjutnya dan pernyataan pejabat The Fed sebagai indikator kunci arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button