Ekonomi

S&P Tahan Rating Kredit Indonesia, Lampaui Ekspektasi Pasar

Jakarta, Maret.id — Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Lembaga pemeringkat global itu tidak hanya menilai fundamental ekonomi Indonesia kuat, tetapi juga mulai menyoroti reformasi struktural melalui peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam mengoptimalkan penerimaan negara.

“Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil merupakan perkembangan yang lebih baik dari ekspektasi pasar, ini menjadi sinyal bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat perbaikan arah kebijakan ekonomi Indonesia,” ujar Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.

Fakhrul menyampaikan keterangannya tersebut pada Rabu, 15 Juli 2026.

S&P mencermati beberapa indikator positif, termasuk kenaikan penerimaan negara pada Semester I 2026, komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap PDB, serta penyesuaian belanja untuk mempertahankan disiplin fiskal.

Lembaga itu juga memberi penilaian positif terhadap reformasi Danantara dan inisiatif DSI yang diarahkan untuk mengoptimalkan penerimaan negara serta meningkatkan kualitas ekspor.

“Ini merupakan pengakuan bahwa reformasi yang sedang dilakukan mulai dipahami oleh investor global, namun yang diapresiasi S&P bukan hanya idenya, melainkan keyakinan bahwa implementasinya akan semakin baik,” ujar Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menilai prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga karena ruang fiskal yang masih memadai.

Menurut David, pemerintah diproyeksikan mampu menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3 persen terhadap PDB dan rasio utang pemerintah masih berada di kisaran 40 persen terhadap PDB.

Rasio itu disebut jauh di bawah ambang batas internasional sebesar 60 persen.

Selain itu, Indonesia masih memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang dapat dimanfaatkan untuk meredam dampak gejolak ekonomi global.

“Modal fiskal ini penting untuk menjaga persepsi bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap sehat dan terkendali, sehingga kepercayaan investor dapat terus terpelihara,” ujar David Sutyanto, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia.

Dari sisi pertumbuhan, David optimistis Indonesia mampu mencatatkan laju mendekati 5 persen di tengah perlambatan ekonomi global.

Ia mengutip proyeksi sejumlah lembaga internasional, yakni Bank Dunia sebesar 4,78 persen, Asian Development Bank sebesar 5,2 persen, sedangkan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4-5,5 persen.

Penguatan peringkat BBB dengan outlook stabil diperkirakan dapat memperkuat persepsi investor, mendukung arus modal masuk, dan menurunkan biaya pinjaman bagi negara.

Namun para pengamat mengingatkan bahwa konsistensi pelaksanaan reformasi dan disiplin fiskal tetap diperlukan untuk mempertahankan kepercayaan pasar dalam jangka panjang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button