Wall Street Menguat oleh Data Inflasi AS dan Kinerja Emiten

Jakarta, Maret.id — Wall Street bergerak menguat setelah data inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan dan laporan keuangan kuartal II-2026 sejumlah perusahaan melampaui ekspektasi. Pada penutupan perdagangan Rabu, 15 Juli 2026, waktu setempat, indeks Dow Jones naik 0,29 persen ke 52.659,18, sementara indeks S&P 500 menguat 0,38 persen ke 7.572,42, dan Nasdaq bertambah 0,62 persen menjadi 26.269,23. Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor layanan komunikasi mencatat kenaikan terbesar, sedangkan sektor utilitas menjadi yang paling tertekan. Saham-saham ritel berbasis konsumen serta sektor perjalanan dan rekreasi menjadi penggerak utama penguatan pasar meski saham semikonduktor bergerak melemah. Saham PayPal melonjak 17,2 persen setelah laporan menyebut perusahaan menerima tawaran akuisisi dari Stripe dan Advent International senilai 60,50 dolar AS per saham, atau sekitar 28 persen lebih tinggi dibanding harga penutupan sehari sebelumnya. BlackRock naik 6,6 persen setelah membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis, sementara saham Morgan Stanley menguat 0,4 persen berkat kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi kembali memicu tekanan inflasi melalui kenaikan harga energi. Pergerakan indeks dan gejolak geopolitik ini dipantau investor sebagai sinyal risiko yang dapat memengaruhi arah prospek inflasi dan pasar modal global.





