Harga Logam Mulia Kompak Merosot Terimbas Inflasi Energi

Jakarta, Maret.id — Harga logam mulia dunia kompak bertumbangan pada akhir perdagangan Kamis 16 Juli 2026.
Emas spot anjlok 1,9 persen ke level 3.984,64 Dolar AS per ons yang merupakan level terendah dalam dua pekan lebih.
Sementara emas berjangka AS kontrak Agustus melorot 1,5 persen ke posisi 3.992,10 Dolar AS per ons.
Tekanan hebat ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent akibat ancaman Iran terkait penutupan jalur Laut Merah.
Tingginya harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global baru, sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan pada September sebesar 53 persen menurut FedWatch Tool CME Group.
Sentimen ini mendorong imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun naik dan menguatkan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,2 persen, sehingga mengikis daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Kejatuhan ini tidak hanya dialami oleh emas, melainkan merembet ke seluruh sektor logam mulia lainnya yang ikut tersungkur dalam porsi yang lebih besar.
Harga perak spot menyusut tajam 3,6 persen menjadi 55,68 Dolar AS per ons, disusul oleh platinum yang anjlok 3,1 persen ke posisi 1.621,83 Dolar AS per ons, sedangkan paladium terkoreksi 4,1 persen menjadi 1.260,70 Dolar AS per ons.
Kombinasi mahalnya harga energi dan penguatan Dolar AS mendorong investor melepas kepemilikan logam mulia dan beralih ke aset berdenominasi dolar karena pasar memperkirakan The Fed sulit melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Perkembangan ini menambah volatilitas di pasar komoditas global dan menimbulkan tantangan bagi prospek inflasi serta keputusan kebijakan moneter di berbagai negara.
Pelaku pasar diperkirakan akan terus mengamati pergerakan harga energi, data inflasi, dan pernyataan bank sentral sebagai penentu arah pasar logam mulia selanjutnya.





