Investor SBN Ritel Didominasi Milenial, Kepemilikan 52%

Jakarta, Maret.id — Kementerian Keuangan menyatakan mayoritas investor Surat Berharga Negara ritel berasal dari kalangan usia produktif, khususnya generasi milenial.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya minat generasi muda terhadap instrumen investasi yang relatif aman karena dijamin oleh negara.
Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu, Chandra AS Wibowo, mengatakan sebanyak 52 persen investor SBN ritel merupakan generasi milenial atau kelompok usia di bawah 40 tahun.
“Kalau dilihat dari proporsi investor SBN ritel, itu ternyata 52 persen generasi milenial, artinya yang 40 tahun ke bawah,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara UOB Media Literacy Circle bertajuk Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 di Jakarta, Kamis 16 Juli 2026.
Selain milenial, investor SBN ritel juga berasal dari generasi X dengan porsi 26,5 persen, sementara generasi Z menyumbang sekitar 4,7 persen.
“Mayoritas investor SBN ritel itu usia produktif,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
“Instrumen ini memang cocok karena mereka sedang fokus berkarya dan bekerja,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
Chandra menilai dibandingkan berinvestasi di saham yang membutuhkan pemantauan pasar secara rutin, SBN ritel lebih praktis karena investor cukup membeli instrumen tersebut dan menerima pembayaran kupon secara berkala.
“Kan tinggal beli, sudah ditinggal saja, nanti tiap bulan ada tambahan cashflow,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
“Jadi ini sangat cocok buat generasi yang produktif,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
Ia menambahkan meningkatnya minat generasi muda terhadap obligasi negara juga dipengaruhi kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
“Masyarakat yang memiliki akses informasi lebih luas kini cenderung memilih instrumen investasi dengan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan aset yang berfluktuasi tinggi,” ujar Chandra AS Wibowo, Analis Keuangan Negara Ahli Madya Bidang Pembiayaan dan Risiko Keuangan Kemenkeu.
Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran preferensi investasi ke instrumen berisiko lebih rendah dan berpotensi mendukung upaya perlindungan modal bagi investor usia produktif.





