Saham Netflix Rontok Usai Laporan Keuangan, Pasar Terkoreksi

Jakarta, Maret.id — Netflix menghadapi reaksi dingin pasar meski melaporkan pertumbuhan pendapatan dan laba pada kuartal II 2026, sehingga sahamnya anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, setelah bursa ditutup.
Dalam laporan keuangan yang berakhir 30 Juni 2026, Netflix membukukan laba per saham (EPS) sebesar 80 sen, sedikit di atas ekspektasi analis sebesar 79 sen.
Pendapatan kuartal tersebut tercatat 12,56 miliar Dolar AS, naik 13 persen dibanding periode sama tahun lalu, namun sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 12,59 miliar Dolar AS.
Laba bersih perusahaan naik menjadi 3,40 miliar Dolar AS dari 3,13 miliar Dolar AS pada kuartal II tahun lalu.
Perusahaan menyebut kenaikan pendapatan ditopang oleh bertambahnya pelanggan, penyesuaian harga langganan, serta pertumbuhan pendapatan dari bisnis iklan.
Netflix memperkirakan pertumbuhan pendapatan pada kuartal III sekitar 12 persen dan mempersempit proyeksi pendapatan tahunan 2026 menjadi 51-51,4 miliar Dolar AS dari kisaran sebelumnya 50,7-51,7 miliar Dolar AS.
Panduan ke depan yang dianggap kurang menggembirakan itulah yang memicu aksi jual oleh investor setelah laporan kuartal II dipublikasikan.
Isu keterlibatan pengguna juga menjadi sorotan, namun manajemen menekankan metrik jam menonton tidak selalu mencerminkan kinerja ekonomi. “Tidak ada hubungan linear antara jam menonton dengan pendapatan dan laba, karena tidak semua jam tayang memiliki nilai ekonomi yang sama,” ujar Greg Peters, Co-CEO.
Soal retensi penonton antar musim, Co-CEO Ted Sarandos membantah adanya perubahan besar pada pola penonton antara musim pertama dan kedua. “Tidak ada perubahan yang material pada jumlah penonton musim kedua dibanding musim pertama. Bahkan penurunan penonton pada musim kedua sedikit membaik tahun ini dibanding tahun lalu,” ujar Ted Sarandos, Co-CEO.
Netflix mengumumkan akan mengurangi frekuensi publikasi laporan “What We Watched” menjadi setahun sekali mulai 2027 agar perhatian investor lebih terfokus pada kinerja keuangan.
Perusahaan juga memperkuat bisnis iklan seiring melambatnya pertumbuhan pelanggan dan memperkirakan pendapatan iklan tahun ini hampir dua kali lipat menjadi sekitar 3 miliar Dolar AS.
Hak siar olahraga seperti Piala Dunia Wanita FIFA, NFL, MLB, hingga WWE disebut oleh perusahaan sebagai daya tarik utama bagi pengiklan.
Terkait peluang menghadirkan layanan gratis yang didukung iklan, manajemen menyatakan belum ada rencana jangka pendek karena mempertimbangkan dampaknya terhadap pelanggan berbayar. “Netflix belum memiliki rencana jangka pendek untuk meluncurkan layanan gratis yang didukung iklan karena masih mempertimbangkan dampaknya terhadap pelanggan berbayar,” ujar Greg Peters, Co-CEO.





