Rupiah Ambles, Harga Impor Meroket dan Inflasi Tekan Daya Beli

Jakarta, Maret.id — Pelemahan rupiah yang kini bergerak di kisaran Rp17.400 hingga Rp17.500 per dolar AS memicu peringatan dari kalangan pelaku usaha mengenai risiko yang lebih luas bagi perekonomian nasional. Pengamat ekonomi menilai kombinasi tekanan eksternal dan persoalan domestik membuat nilai tukar semakin rentan dan berpotensi membebani fiskal serta sektor riil.
Sinyal Kekhawatiran dari Dunia Usaha
Ajib Hamdani, Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), menyatakan pelemahan rupiah saat ini tidak bisa direduksi sebagai fenomena biasa atau semata-mata akibat faktor luar negeri. Menurut Ajib, tren ini mencerminkan gabungan tekanan global dan kelemahan domestik yang harus segera direspons oleh pembuat kebijakan.
Perbandingan dengan Asumsi APBN
Sejak awal tahun 2026, nilai tukar rupiah telah melampaui asumsi makro dalam APBN, kata Ajib. Pada Januari lalu rupiah sempat berada di level sekitar Rp16.800 per dolar AS, lebih tinggi dibanding asumsi APBN yang dipatok Rp16.500 per dolar AS.
Tekanan Eksternal Masih Dominan
Ajib menyebut salah satu faktor utama adalah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih mempertahankan daya tarik dolar AS. Federal Reserve menjaga suku bunga acuan pada sekitar 3,75 persen sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat mendekati 4,47 persen, sehingga investor global cenderung kembali ke aset berbasis dolar.
Risiko Geopolitik dan Aliran Modal
Tensi geopolitik global yang meningkat turut memperburuk sentimen terhadap aset pasar negara berkembang. Akibatnya, aliran modal asing ke Indonesia berpotensi berkurang dan memberi tekanan lebih lanjut pada nilai tukar.
Kekhawatiran pada Posisi Fiskal
Selain faktor eksternal, Ajib menyoroti kondisi fiskal domestik yang mulai memunculkan kekhawatiran. Ia menilai stimulus fiskal yang agresif dan potensi fiscal overheating dapat mengecilkan ruang fiskal pemerintah ke depan.
Potensi Dampak pada APBN
Salah satu indikasi tekanan fiskal adalah pembahasan ulang potensi restitusi pajak sekitar Rp300 triliun yang semestinya dikembalikan kepada wajib pajak, menurut Ajib. Langkah seperti itu dipandang pelaku usaha sebagai sinyal meningkatnya tekanan pada keuangan negara.
Cadangan Devisa dan Neraca Perdagangan
Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran 146 miliar dolar AS saat ini menunjukkan tren penurunan yang mulai menjadi perhatian pasar. Meski neraca perdagangan masih mencatat surplus, aliran devisa dari perdagangan dilaporkan melambat sehingga menambah kekhawatiran terhadap ketahanan eksternal.
Ancaman bagi Ketahanan Sektor Riil
Ajib memperingatkan jika rupiah berkepanjangan melemah di atas level Rp17.500 per dolar AS, daya tahan fiskal dan sektor usaha nasional akan menghadapi tekanan lebih besar. Pelaku usaha khawatir defisit anggaran berpotensi melebar apabila tekanan global berlanjut sementara kebutuhan belanja negara tetap tinggi.
Anjuran Kebijakan Mitigasi
Dalam pandangan Ajib, pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang bersifat preventif untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin membebani sektor riil maupun fiskal. Langkah-langkah yang dimaksud meliputi penguatan koordinasi fiskal dan moneter serta kebijakan untuk memperkuat arus masuk devisa jangka menengah.
Implikasi Jangka Menengah
Jika tidak direspons cepat, kombinasi tekanan eksternal dan domestik dapat mempersempit ruang kebijakan ekonomi nasional dan menimbulkan beban biaya bagi dunia usaha. Pemulihan kepercayaan investor dinilai krusial untuk menstabilkan pasar valas dan menjaga prospek pertumbuhan ekonomi.
Ajib menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang jelas untuk meredam kekhawatiran pasar dan memberi sinyal bahwa pemerintah memiliki rencana mitigasi. Proyeksi kebijakan dan langkah konkret akan menjadi kunci dalam menahan tekanan nilai tukar dan menjaga stabilitas ekonomi sampai kondisi global lebih kondusif.





