Krisis Energi dan Geopolitik Menekan Bursa Eropa

Jakarta, Maret.id — Pasar saham Eropa ditutup cenderung mendatar pada awal pekan ini dengan Euro STOXX 50 bertahan di level 6.228 dan STOXX Eropa 600 turun tipis 0,3 persen ke 639,9 pada penutupan perdagangan Senin, 20 Juli 2026 waktu setempat.
Eskalasi konflik antara AS dan Iran di Selat Hormuz mengganggu arus tanker LNG dan memicu lonjakan harga gas alam Eropa yang kembali meningkatkan risiko inflasi.
Meskipun harga minyak mentah Brent sempat melandai di bawah 88 Dolar AS per barel menyusul kabar usulan jeda permusuhan, sikap hati-hati tetap mendominasi pasar. Investor kini mencermati keputusan Bank Sentral Eropa yang diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan pekan ini.
Di tingkat regional, DAX 40 Jerman dan CAC 40 Prancis hanya menguat sangat terbatas, sementara FTSE MIB Italia tercatat stabil di 51.863. FTSE 100 Inggris merosot lebih dari 0,5 persen akibat tekanan sektor komoditas dan dinamika politik domestik di Inggris.
Kinerja bursa didukung oleh penguatan sektor perbankan seperti BNP Paribas dan UniCredit serta lonjakan saham di sektor energi dan teknologi. Saham Siemens Energy naik 3,3 persen, sedangkan Shell turun 0,8 persen, HSBC kehilangan 0,9 persen, AstraZeneca turun 1,5 persen, dan Rolls-Royce merosot 0,4 persen.
Sektor barang mewah tertekan oleh tingginya imbal hasil obligasi global, sementara maskapai penerbangan seperti Ryanair terdampak oleh melambungnya biaya bahan bakar. Saham utilitas juga terbeban oleh kenaikan harga gas yang menekan margin operasi.
Pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik di Teluk serta sinyal kebijakan moneter ECB karena kedua faktor tersebut berpeluang menentukan arah inflasi dan prospek laba korporasi dalam beberapa bulan mendatang.





