Ekonomi

Rupiah Ambles ke Level Terendah 6 Bulan, Biaya Impor Melonjak

Jakarta, Maret.id — Rupiah menembus level Rp17.614 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, tertekan melemah 84 poin atau 0,48 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan ini tercatat bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan sentimen global menjadi faktor utama pelemahan mata uang domestik. Lukman menilai kombinasi penguatan dolar dan penguatan yield obligasi AS mendorong aliran modal ke aset-aset berdenominasi dolar.

Pengaruh Pertemuan Presiden AS dan China

Lukman menjelaskan penguatan indeks dolar terjadi setelah pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pasar menunjukkan optimisme terhadap membaiknya hubungan bilateral meski kedua pemimpin belum mengeluarkan pernyataan resmi yang merinci hasil pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan di Beijing, Xi Jinping menekankan bahwa hubungan AS-China seharusnya dibangun sebagai kemitraan, bukan kompetisi. Menurut Xi, ada kepentingan bersama yang lebih besar dibandingkan perbedaan, dan keberhasilan satu negara dapat menjadi peluang bagi pihak lain.

Tekanan dari Imbal Hasil Obligasi AS

Selain sentimen geopolitik, Rupiah juga mendapat tekanan dari kenaikan imbal hasil surat utang AS yang mencapai level tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan imbal hasil tersebut dipicu oleh rilis data inflasi AS yang lebih panas dari ekspektasi pasar, sehingga meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve.

Lukman menekankan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed membuat aset dolar lebih menarik bagi investor global. Kondisi ini mendorong keluarnya dana dari pasar negara berkembang, termasuk pasar obligasi dan pasar saham domestik, sehingga melemahkan Rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Dengan kombinasi sentimen global yang ada, Lukman memproyeksikan Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan berikutnya. Ia mengingatkan pelaku pasar agar mewaspadai volatilitas yang bisa meningkat jika muncul pernyataan resmi dari kedua pemimpin AS dan China atau data makro AS berikutnya.

Pelaku pasar dan otoritas domestik diperkirakan akan terus memantau arus modal dan perkembangan pasar global untuk menentukan langkah kebijakan atau intervensi yang diperlukan. Sementara itu, investor dalam negeri disarankan mengatur manajemen risiko menyusul potensi fluktuasi nilai tukar yang tinggi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button