Wall Street Tertekan Menanti Kinerja Raksasa Teknologi AS

Jakarta, Maret.id — Kehati-hatian menghiasi perdagangan bursa saham Amerika Serikat menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi. Investor memilih menunggu hasil kinerja emiten besar untuk mencari petunjuk mengenai prospek sektor teknologi dan perkembangan investasi kecerdasan buatan.
Mayoritas indeks Wall Street bergerak melemah pada penutupan perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, waktu setempat. Nasdaq Composite memimpin penurunan setelah turun 146,30 poin atau 0,57 persen ke level 25.690,90.
S&P 500 melemah 10,24 poin atau 0,14 persen menjadi 7.498,96. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 6,06 poin atau 0,01 persen ke posisi 52.218,58.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi, namun pergerakan sektor tidak sepenuhnya seragam. Saham perusahaan perangkat lunak masih tertekan sementara saham semikonduktor mulai menunjukkan pemulihan.
Indeks Philadelphia Semiconductor naik 0,4 persen setelah berbalik menguat dari pelemahan di awal sesi dan mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Hal ini mencerminkan adanya rotasi sektor di tengah kekhawatiran terhadap saham teknologi yang lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek.
Perhatian investor tertuju pada laporan keuangan Alphabet dan Tesla sebagai dua anggota kelompok “Magnificent Seven” yang lebih dulu merilis kinerja kuartalan. Hasil laporan tersebut dinilai penting untuk mengukur apakah investasi besar-besaran di bidang AI mulai menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba.
Saham Alphabet turun 1,5 persen setelah pasar mencermati kabar penundaan peluncuran model AI andalannya. Saham Tesla melemah 1,3 persen pada perdagangan reguler dan kembali turun sekitar 3 persen dalam perdagangan setelah jam bursa setelah perusahaan melaporkan arus kas bebas negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.
Di tengah tekanan pasar, Super Micro Computer melesat 19,8 persen setelah mengumumkan pesanan baru senilai lebih dari 60 miliar Dolar AS pada kuartal keempat. Kenaikan tersebut turut mendorong saham Dell Technologies naik 9,3 persen dan Hewlett Packard Enterprise menguat 3 persen.
Harga minyak naik sekitar 3 persen ke level tertinggi dalam enam pekan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran terhadap inflasi sehingga investor menjadi lebih berhati-hati.
Pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026, meski peluang kenaikan suku bunga masih tetap diperhitungkan. Kondisi ini membuat strategi alokasi aset dan ekspektasi laba perusahaan teknologi menjadi fokus utama menjelang musim laporan kuartalan.





