IEA Peringatkan Pasokan Minyak Ambles, Harga BBM Melejit

Jakarta, Maret.id — Dalam laporan terbarunya, International Energy Agency (IEA) menyebut gangguan pasokan minyak global sejak Februari 2026 telah mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari. Angka itu mencerminkan skala gangguan yang menurut IEA termasuk salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Lembaga yang berkedudukan di Paris itu menyatakan kondisi tersebut terutama dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk dan pembatasan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Pembatasan ini memperparah arus pasokan menuju pasar global dan menimbulkan akumulasi kerugian pasokan yang signifikan.
Gangguan Pasokan dan Angka Kerugian
IEA mencatat bahwa akumulasi kehilangan pasokan dari negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk kini telah melampaui 1 miliar barel. Jumlah tersebut dihitung sejak awal gangguan dan menunjukkan besarnya stok minyak yang hilang dari peredaran pasar global.
Selain angka kumulatif, IEA juga memperingatkan bahwa lebih dari 14 juta barel per hari saat ini tidak dapat diproduksi atau disalurkan ke pasar global. Kondisi ini dinilai sebagai guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena volume minyak yang terdampak dalam waktu bersamaan sangat besar.
Dampak pada Proyeksi Permintaan
Dalam respons terhadap perkembangan tersebut, IEA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 420 ribu barel per hari untuk tahun ini. Pemangkasan proyeksi itu dipicu oleh perlambatan ekonomi dunia dan kenaikan harga energi yang menekan konsumsi.
Meskipun proyeksi permintaan direvisi turun, IEA menilai penurunan konsumsi belum cukup untuk mengimbangi besarnya gangguan pasokan yang terjadi sekarang. Imbal hasilnya adalah pasar tetap menghadapi defisit penawaran yang dapat memperpanjang tekanan pada ketersediaan barang di berbagai wilayah.
Stok dan Risiko Volatilitas Harga
IEA mencatat bahwa stok minyak global terus mengalami penyusutan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan. Penurunan cadangan ini memperkecil bantalan pasar terhadap fluktuasi pasokan mendadak.
Kondisi stok yang menipis diperkirakan dapat memicu volatilitas harga minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan. Para pelaku pasar, termasuk perusahaan energi dan investor, kini diperkirakan akan memperketat pemantauan terhadap berita geopolitik dan data persediaan.
Selat Hormuz: Jalur Vital Perdagangan Energi
Selat Hormuz sendiri menjadi sorotan karena merupakan jalur vital perdagangan energi global yang selama ini dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini lantas meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Dengan tekanan pada pasokan dan stok yang menipis, pasar cenderung menyikapi setiap perkembangan di Selat Hormuz dengan reaksi harga yang cepat. Para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan energi global kini dihadapkan pada kebutuhan untuk memonitor dan merespons dinamika yang dapat memengaruhi keamanan pasokan secara jangka pendek maupun menengah.
Pasar minyak internasional akan terus mencermati laporan IEA berikutnya serta langkah-langkah yang mungkin diambil negara-negara produsen dan konsumen untuk meredam dampak guncangan ini. Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan menjadi penentu arah harga dan kestabilan pasokan di pasar global.





