Mantri BRI Perkuat Inklusi Keuangan Toraja Utara

Jakarta, Maret.id — Di tengah tantangan geografis wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), Elce Putri Bontong membuktikan dedikasinya sebagai Mantri BRI Unit Bolu, Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Setiap perjalanan yang dilakukannya ke desa-desa terpencil merupakan upaya menghadirkan akses layanan keuangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Ketangguhan Elce mencerminkan peran perempuan yang tidak hanya mampu berkembang dalam karier, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi warga lokal.
Kariernya di BRI dimulai pada 2013 sebagai teller dan kemudian dipercaya menjadi customer service sebelum mengikuti seleksi Mantri pada 2020.
Berinteraksi langsung dengan nasabah setiap hari menumbuhkan keinginannya untuk berkontribusi lebih luas di lapangan. “Tertarik menjadi Mantri karena menurut saya jangkauan pelayanannya akan lebih luas. Kalau sebelumnya sebagai teller dan CS kan terbatas di dalam gedung saja, jadi menunggu nasabah datang. Saya mau jemput bola juga di lapangan makanya saya tertarik menjadi Mantri. Kalau di luar kan nasabahnya lebih beragam kebutuhannya,” ujar Elce Putri Bontong, Mantri BRI Unit Bolu, Rantepao, Toraja Utara.
Pernyataan itu dikutip Minggu, 26 Juli 2026.
BRI Unit Bolu merupakan unit kedua yang dipegang Elce selama bertugas sebagai Mantri.
Dari unit ini ia menangani nasabah di Desa Karre Pananian, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, yang berjarak sekitar 35 kilometer dari kantor unit.
Meski jarak tidak terlihat jauh, rute menuju desa harus melewati jalan pegunungan dengan kondisi medan yang menantang.
Sebagai perempuan, perjalanan tersebut menghadirkan risiko tambahan karena jalanan sepi dan melintasi hutan serta perbukitan, namun Elce memiliki cara untuk memastikan keselamatan selama bertugas.
“Kalau nasabah di desa kebanyakan itu petani dan peternak, seperti peternak babi, kerbau. Layanan keuangan yang saya berikan biasanya pinjaman dan tabungan. Kalau pinjaman biasanya digunakan untuk menambah modal, misalnya beli indukan, penggemukkan, pokoknya untuk mengembangkan usahanya,” ujar Elce Putri Bontong, Mantri BRI Unit Bolu, Rantepao, Toraja Utara.
Selain menyalurkan pembiayaan, Elce aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menabung di bank dan menghadirkan BRILink Agen di desa agar transaksi lebih mudah. “Saya juga edukasikan pelan-pelan pentingnya menabung di bank. Saya buat juga satu BRILink Agen di desa, tujuannya untuk mempermudah masyarakat menyimpan atau mengambil uang. Orang Toraja ini kan perantau ya, banyak yang anak-anaknya kerja di luar kota, luar pulau. Jadi, mereka tidak perlu titip uang ke orang lain lagi kalau mau kirim uang ke keluarganya,” ujar Elce Putri Bontong, Mantri BRI Unit Bolu, Rantepao, Toraja Utara.
Bagi Elce, kebahagiaan terbesar datang ketika melihat usaha para nasabah berkembang setelah mendapatkan pendampingan dan akses pembiayaan. “Tentunya saya merasa bangga. Kalau awalnya melihat nasabah yang mungkin baru punya ternak 1-2, lalu setahun kemudian ketemu saya lagi dan ternaknya sudah jadi 100 setelah mendapatkan pinjaman modal dari BRI, saya merasa ikut senang karena bisa membantu mereka. Meskipun itu bukan uang saya, tapi ada rasa bahagia tersendiri bisa membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. Itu yang bikin saya bangga,” ujar Elce Putri Bontong, Mantri BRI Unit Bolu, Rantepao, Toraja Utara.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan bahwa mantri BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan tetapi juga berperan sebagai penasihat keuangan yang mendampingi pertumbuhan usaha nasabah.
“BRI selalu menanamkan nilai-nilai budaya kerja yang positif bagi seluruh pekerja sehingga tercipta komitmen dan dedikasi yang ditunjukkan para mantri di lapangan. Ini merupakan bukti nyata kontribusi perempuan dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Kisah Elce juga menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” ujar Dhanny, Corporate Secretary BRI.
Kisah Elce menegaskan peran strategis layanan keuangan inklusif dalam memperkuat ekonomi daerah 3T dan memperlihatkan bagaimana pendampingan serta akses modal dapat mengubah skala usaha rumahtangga menjadi penggerak ekonomi lokal.





