Ekonomi

Backfill Tailing Dorong Efisiensi Biaya dan Investasi Tambang

Jakarta, Maret.id — Material sisa hasil pengolahan (tailing) dimanfaatkan kembali untuk mengisi ruang kosong (void) bekas penambangan melalui metode backfill yang diklaim menjaga stabilitas massa batuan dan meminimalkan dampak lingkungan dibandingkan metode konvensional.

DPM menjelaskan penerapan backfill tailing dilaksanakan dengan pemantauan kualitas air tanah berkala, pengujian quality assurance/quality control (QA/QC), evaluasi lingkungan, serta pelaporan terdokumentasi untuk memastikan kegiatan pertambangan berjalan aman dan sesuai regulasi.

Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB), memaparkan pandangannya pada diskusi E2S bertema Tambang Bawah Tanah Modern di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

“Ruang di permukaan yang dibutuhkan untuk aktivitas warga, pertanian, dan pemukiman menjadi jauh lebih aman karena tambang bawah tanah,” ujar Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut Irwan, pembeda utama tambang bawah tanah modern adalah pengelolaan tailing yang mengembalikan limbah ke ruang bekas tambang melalui sistem backfill, bukan menempatkannya di tailing dump.

“Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump karena material itu tetap berada di sana setelah tambang selesai dan berisiko, seperti yang terlihat pada bencana penambangan di Brasil 2019,” ujar Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia menegaskan setiap aktivitas pertambangan memiliki dampak terhadap lingkungan dan yang terpenting adalah bagaimana dampak tersebut dikelola melalui penerapan teknologi dan sistem pengawasan yang tepat.

“Perubahan paling signifikan adalah mengonversi sistem dari tailing dump menjadi backfill yang dinilai mampu mengurangi potensi terbentuknya air asam tambang,” ujar Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Perubahan yang signifikan adalah mengonversi sistem dari tailing dump menjadi backfill dan DPM juga berhasil merecover sekitar 32 persen sulfur yang jika tidak diambil berpotensi membentuk air asam tambang,” ujar Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Irwan menambahkan sekitar tujuh persen kandungan sulfur yang tersisa dicampur dengan semen dan kapur (lime) sebelum ditempatkan kembali ke terowongan tambang untuk mencegah oksidasi yang dapat memicu pembentukan air asam tambang.

Ia juga menilai tren industri pertambangan global mulai meninggalkan penggunaan tailing dump konvensional setelah sejumlah kegagalan bendungan tailing di berbagai negara.

“Banyak perusahaan kini beralih ke teknologi dry stack tailing maupun sistem backfill karena dinilai lebih aman dan memiliki footprint lahan yang lebih kecil meski memerlukan biaya dan teknologi tambahan,” ujar Irwan Iskandar, Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung (ITB).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button