Pengunduran Diri Gubernur BI Berpotensi Picu Gejolak Pasar

Jakarta, Maret.id — Pemerintah diminta bergerak cepat menyikapi pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Senin, 27 Juli 2026.
Ketidakpastian kepemimpinan bank sentral dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan apabila tidak segera ditangani.
Pasca pengunduran diri Gubernur BI pada Senin, 27 Juli 2026, pasar keuangan langsung memberikan respons negatif.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah ditutup melemah menjadi Rp17.995 per dolar AS atau turun 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,17 persen ke level 6.185,7.
Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.
“Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia harus segera direspons dengan langkah cepat oleh pemerintah karena reaksi pasar yang langsung terlihat melalui pelemahan rupiah dan IHSG menunjukkan pelaku pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter dan kepemimpinan BI,” ujar Marwan Jafar, Anggota Komisi XI DPR RI.
Legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menilai pemerintah tidak boleh membiarkan ketidakpastian berlangsung terlalu lama karena BI merupakan institusi yang menjadi jangkar stabilitas ekonomi nasional. Dia merupakan wakil dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III.
“Pasar keuangan sangat sensitif terhadap ketidakpastian dan semakin lama proses penentuan gubernur definitif, semakin besar peluang spekulasi yang dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar serta sentimen negatif pasar saham dan obligasi,” ujar Marwan Jafar, Anggota Komisi XI DPR RI.
Marwan menambahkan penunjukan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai pelaksana tugas diharapkan mampu menjaga kesinambungan operasional dan kebijakan BI meskipun tetap perlu segera ditindaklanjuti dengan penetapan gubernur definitif.
“Kepercayaan pelaku pasar sangat ditentukan oleh figur yang memimpin bank sentral sehingga pemerintah harus memilih sosok yang independen, memiliki integritas dan rekam jejak kuat di bidang moneter serta mampu berkomunikasi efektif dengan pasar,” ujar Marwan Jafar, Anggota Komisi XI DPR RI.
Marwan mengingatkan perekonomian global saat ini masih dibayangi berbagai risiko, termasuk ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan fluktuasi kebijakan suku bunga negara-negara maju.
“Jangan sampai ketidakpastian kepemimpinan BI memperbesar tekanan eksternal yang sedang dihadapi perekonomian nasional; pemerintah harus menunjukkan kepada pasar bahwa transisi kepemimpinan berlangsung baik, independensi BI tetap terjaga, dan arah kebijakan moneter tidak berubah dari mandat utama menjaga stabilitas,” ujar Marwan Jafar, Anggota Komisi XI DPR RI.





