Swasembada Energi Terancam Imbas Anjloknya Produksi Migas

Jakarta, Maret.id — Industri migas nasional menghadapi sejumlah tantangan meski tetap memegang peran penting dalam bauran energi negara.
“Saat ini, realisasi produksi minyak bumi nasional berada di kisaran 580.000 BOPD,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Angka tersebut masih jauh dari target swasembada energi yang menargetkan kapasitas produksi 1.000.000 BOPD minyak dan 12.000 MMSCFD gas pada dekade mendatang.
“Lapangan hulu migas eksisting Indonesia tercatat mengalami penurunan produksi alamiah yang sangat agresif,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
“Data SKK Migas mencatat decline rate minyak nasional periode 2020-2025 berkisar antara 13,4 persen hingga 30,2 persen per tahun (rata-rata 22,3 persen per tahun). Sedangkan untuk gas, decline rate berkisar antara 5,2 persen hingga 15,8 persen per tahun (rata-rata 12,0 persen per tahun),” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Berdasarkan skenario Long Term Plan (LTP) SKK Migas, tanpa penambahan aktivitas eksplorasi yang signifikan (Low Case) proyeksi lifting minyak nasional pada 2030 diperkirakan stagnan di kisaran 580.000–590.000 BOPD.
Jika eksplorasi stagnan, defisit antara konsumsi dan produksi minyak nasional pada 2030 diproyeksikan mencapai 1,03 juta BOPD (skenario LTP High), 1,24 juta BOPD (LTP Mid), hingga 1,35 juta BOPD (LTP Low).
Kondisi itu akan memaksa pengeluaran devisa impor minyak secara kumulatif periode 2026–2030 (asumsi harga 90 Dolar AS/barel) mencapai sekitar 181,3 miliar Dolar AS (±Rp3.043 triliun) pada skenario terbaik, dan meningkat hingga 217,9 miliar Dolar AS (±Rp3.656 triliun) pada skenario terburuk.
Indonesia memiliki total 128 cekungan migas, di mana sekitar 68 cekungan di antaranya belum dieksplorasi secara memadai.
Tren prospektivitas bergerak positif sepanjang 2022–2026 dengan beberapa penemuan skala besar, termasuk Blok Andaman II (Timpan-1 ±2 TCF gas), Kutai/Ganal (Geng North-1 ±5 TCF gas + 400 juta barel kondensat), serta South Andaman (Layaran-1 ±6–6,5 TCF gas-in-place dan Tangkulo-1 ±2 TCF gas).
Penemuan lainnya meliputi Muara Bakau (Konta-1 ±600 Bcf–1 TCF gas) dan Blok Ganal (Geliga-1 pada April 2026 ±5 TCF gas dan 300 juta barel kondensat).
“Realisasi pengeboran sumur eksplorasi nasional periode 2021-2026 dilaporkan berada di bawah target tahunan akibat kendala operasional: tahun 2021 terealisasi 28 dari target 41 sumur (68,3 persen); tahun 2022 terealisasi 31 dari target 42 sumur (73,8 persen); tahun 2023 terealisasi 41 dari target 57 sumur (71,9 persen); tahun 2024 terealisasi 39 dari target 50 sumur (78,0 persen); tahun 2025 terealisasi 24 dari target 46 sumur (52,2 persen) per Oktober; dan per 31 Mei 2026 baru terealisasi 5 dari target 39 sumur (12,8 persen),” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Kualitas teknis hulu Indonesia relatif kompetitif dengan rasio keberhasilan geologis nasional 2020–2024 berada pada kisaran 52–74 persen (rata-rata sederhana 63,2 persen) yang menghasilkan akumulasi 3.984,81 MMBOE P50 post-drill dari 144 sumur.
Berdasarkan laporan IHS Markit per April 2026, indikator Activity & Success Indonesia di Asia Pasifik menempati peringkat ke-4 dari 15 negara dengan skor yang naik dari 5,00 (2020) menjadi 6,03 (2026).
Pertamina melalui sub-holding hulu (PHE) memegang peran krusial dengan kontribusi memasok sekitar 55–56 persen produksi minyak nasional serta 29–30 persen lifting gas nasional (rata-rata periode 2025–2026).
“Decline rate minyak dari lapangan eksisting Pertamina Group kurang lebih sebesar 21–22 persen per tahun,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
“Dampaknya, tanpa adanya eksplorasi baru dan EOR, produksi PHE diproyeksikan menurun dari kisaran 579.000 BOPD (2024) menjadi 300.000–350.000 BOPD (2030), dan bisa lebih rendah dari 160.000 BOPD pada 2035 (penurunan >70 persen dalam 11 tahun),” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
“Jika eksplorasi, EOR, dan transformasi sumber daya berhasil diakselerasi penuh, total produksi Pertamina berpotensi meningkat hingga 850.000–950.000 BOPD pada 2030 dan mencapai 1.345.000 BOPD pada 2035,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Penambahan minimal 12 struktur eksplorasi minyak (dari skenario Base Case 215 struktur menjadi High Case 227 struktur) dinilai menjadi penentu utama agar produksi nasional dapat menembus puncak 1.140.000 BBL/D untuk mencapai swasembada.
“Akselerasi eksplorasi juga diproyeksikan mampu mendongkrak lifting gas nasional dari 5.354 MMSCFD (2023) menuju puncak 14.244 MMSCFD pada 2035,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
“Data dan informasi yang ada menegaskan bahwa eksplorasi migas memiliki peran penting dan akan menjadi kunci utama dalam pencapaian target swasembada energi nasional,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
“Keberhasilan dalam meningkatkan iklim investasi dan kegiatan eksplorasi migas nasional sebagian besar juga akan ditentukan oleh kinerja operasional dan finansial Pertamina,” ujar Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Keterangan tertulis tersebut diterima di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.





