Ekonomi

Bursa Eropa Loyo saat Saham Teknologi Berguguran

Jakarta, Maret.id — Bursa saham Eropa bergerak melemah pada perdagangan Selasa 18 Agustus 2026 seiring tekanan pada ekuitas global akibat kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang, dengan Euro STOXX 50 turun 0,9 persen menjadi 6.473 dan STOXX 600 terkoreksi 0,6 persen ke level 652.

Kenaikan imbal hasil obligasi muncul di tengah meningkatnya penerbitan utang perusahaan teknologi untuk membiayai investasi kecerdasan buatan (AI), sehingga memperbesar kekhawatiran terhadap defisit fiskal di Amerika Serikat dan zona euro serta menajamkan perhatian pasar terhadap arah suku bunga bank sentral.

Tekanan paling kuat tercermin pada saham teknologi dan industri yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk ASML yang anjlok 5 persen dan Infineon Technologies yang merosot lebih dari 7 persen.

Schneider Electric turun 4,5 persen, Siemens melemah 2,3 persen, dan Siemens Energy terkoreksi sekitar 5,5 persen seiring aksi ambil untung pada saham yang sebelumnya diuntungkan oleh investasi infrastruktur AI.

Di Jerman, indeks DAX 40 turun 0,8 persen menjadi 26.152 dan mencatat penurunan dalam dua sesi berturut-turut.

Sentimen pasar di Jerman juga tertekan oleh ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan tekanan inflasi.

Infineon menjadi saham dengan penurunan terbesar di DAX, yakni lebih dari 7 persen, sementara Siemens Energy turun 4,4 persen.

Heidelberg Materials, Siemens, Airbus, MTU Aero Engines, dan Continental melemah antara 1,9 persen hingga 3,5 persen, sedangkan SAP naik 1,9 persen dan Bayer serta Deutsche Telekom masing-masing menguat 1,7 persen.

Situasi serupa terjadi di Prancis, di mana CAC 40 turun 0,8 persen menjadi 8.509 dan mencatat penurunan selama enam sesi berturut-turut.

Kenaikan harga minyak serta imbal hasil obligasi menjadi perhatian utama investor di pasar Prancis.

Saham perbankan Prancis melemah, dengan BNP Paribas turun 1,6 persen, Crédit Agricole terkoreksi 2 persen, dan Société Générale merosot 2,5 persen.

Sektor industri dan teknologi juga tertekan, termasuk Airbus yang turun 2,1 persen, Safran turun 2,2 persen, serta STMicroelectronics yang anjlok 7,6 persen dan Schneider Electric turun 4,4 persen.

Namun sejumlah saham barang mewah kembali menguat setelah terkoreksi pada sesi sebelumnya; L’Oréal naik 1,6 persen, LVMH bertambah 0,4 persen, dan Hermès menguat 0,7 persen.

TotalEnergies naik 1,8 persen mengikuti kenaikan harga minyak, yang juga menopang sebagian saham energi di pasar lain.

Berbeda dari mayoritas bursa Eropa, FTSE 100 Inggris menguat tipis dengan penguatan yang terutama ditopang saham energi, di mana BP naik 3 persen dan Shell menguat 2 persen.

Penguatan sektor energi itu mengimbangi tekanan pada perusahaan pertambangan akibat turunnya harga emas, dengan Fresnillo turun sekitar 3 persen dan Endeavour Mining melemah 2,8 persen.

Data ekonomi Inggris menunjukkan tingkat pengangguran bertahan di 4,9 persen dalam tiga bulan hingga Juni, sementara pertumbuhan pekerjaan berada di bawah ekspektasi pasar.

Di Italia, FTSE MIB turun lebih dalam sebesar 1,1 persen menjadi 53.018, dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

STMicroelectronics kembali menjadi salah satu saham dengan kinerja terburuk di Italia setelah anjlok 7,6 persen, sementara Prysmian turun 4,9 persen dan saham-saham sektor keuangan seperti FinecoBank, UniCredit, BPER Banca, serta Banco BPM melemah lebih dari 1 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi dan risiko geopolitik mendorong investor menilai ulang valuasi aset berdurasi panjang dan memperketat selera risiko pasar.

Dinamika serupa di pasar global menunjukkan investor tetap berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan harga energi, kenaikan imbal hasil, dan implikasi fiskal dari pembiayaan investasi teknologi besar-besaran.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button