Ekonomi

Wall Street Merah, Saham Teknologi Anjlok Tekan Indeks

Jakarta, Maret.id — Wall Street kembali berada di bawah tekanan seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memanasnya situasi di Timur Tengah yang mendorong investor mengurangi eksposur pada saham teknologi.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, waktu setempat, indeks S&P 500 turun 0,69 persen atau 53,30 poin menjadi 7.691,76, Nasdaq Composite melemah 1,33 persen atau 355,20 poin ke 26.289,71, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,22 persen atau 116,38 poin menjadi 53.343,40.

Penurunan paling tajam tercatat pada saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, dengan Indeks Semikonduktor Philadelphia (SOX) anjlok 5 persen; saham Nvidia turun 2,3 persen dan Micron Technology merosot 7 persen setelah sebelumnya melonjak hampir 18 persen dalam lima sesi perdagangan.

Saham penyimpanan data juga tertekan, di mana Sandisk turun 9 persen, Western Digital melemah 7,4 persen dan Roundhill Memory ETF anjlok 8,8 persen setelah mencatat kenaikan selama lima sesi berturut-turut.

Sektor teknologi informasi menjadi sektor dengan penurunan terbesar di S&P 500, yakni 1,9 persen, karena kenaikan imbal hasil obligasi membuat saham dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi kurang menarik di tengah meningkatnya biaya pendanaan.

Sebaliknya, investor beralih ke sektor defensif dengan sektor kesehatan naik 1,6 persen, barang kebutuhan pokok konsumen menguat 1,1 persen, dan energi menjadi penguat terbesar S&P 500 dengan kenaikan 1,8 persen.

Harga minyak naik setelah Iran mengancam mengubah sikap militernya menjadi lebih ofensif sementara AS menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata, kondisi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan memperbesar tekanan inflasi.

Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS, di mana imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007 dan imbal hasil obligasi 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

Saham Home Depot turun tipis 0,1 persen meski perusahaan mencatat penjualan kuartal kedua di atas perkiraan, dan investor menunggu laporan keuangan sejumlah peritel besar termasuk Walmart serta risalah rapat Federal Reserve yang dijadwalkan terbit Rabu waktu AS.

Investor juga menantikan laporan keuangan Nvidia yang dipandang sebagai ujian penting bagi momentum saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di Wall Street.

Di Bursa New York jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio 1,94 banding 1, sementara di Nasdaq tercatat 2.977 saham turun dan 1.778 saham naik.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 14,86 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 sesi terakhir yang mencapai 16,88 miliar saham.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button