BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen untuk Stabilitas Inflasi

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia (BI) dinilai tak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) dan cukup mempertahankannya di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2026.
Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menegaskan opsi menahan suku bunga lebih bijak ketimbang menaikkannya demi memberikan ruang transmisi kebijakan terhadap likuiditas, penyaluran kredit, hingga sektor riil.
“Saya melihat probabilitas terbesar RDG BI besok adalah BI-Rate tetap ditahan di level 5,75 persen, bukan kembali dinaikkan,” ujar Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Rizal menjelaskan opsi pengetatan moneter lanjutan belum mendesak dilakukan selama gejolak nilai tukar Rupiah masih terukur dan laju inflasi terjaga rapat dalam sasaran target.
“Faktor penentunya memang stabilitas nilai tukar. Namun, jika tekanan eksternal masih bisa diredam, menahan suku bunga adalah pilihan terbaik,” ujar Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Apalagi, bank sentral masih mengantongi amunisi stabilisasi non-bunga yang ampuh, seperti intervensi valuta asing (valas), optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga operasi pasar moneter.
“Suku bunga acuan semestinya menjadi benteng terakhir (last resort), bukan respons pertama,” ujar Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Di sisi lain, Indef mewanti-wanti dampak negatif jika BI memaksakan kenaikan suku bunga karena kenaikan cost of fund perbankan justru akan menahan penurunan bunga kredit dan menekan daya ekspansi sektor riil di tengah upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dalam kondisi inflasi terkendali dan ekonomi butuh ruang untuk tumbuh, keputusan hold di level 5,75 persen adalah langkah yang paling tepat dan proporsional,” ujar Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Keputusan menahan suku bunga dipandang memberi ruang bagi perbankan melanjutkan penyaluran kredit dan mendukung aktivitas sektor riil sambil BI memanfaatkan instrumen non-suku bunga untuk meredam potensi tekanan eksternal.





