BI

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026, menurut riset Bank Permata.
Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menyampaikan analisis tersebut dalam riset yang dirilis pada Rabu, 19 Agustus 2026.
“Bank Indonesia diperkirakan akan kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada RDG Agustus 2026, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Menurut Josua, BI perlu memberi waktu bagi efek kenaikan suku bunga kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni untuk berfungsi penuh sambil menjaga stabilitas nilai tukar.
“Keputusan terbaik saat ini bukan menaikkan ataupun menurunkan suku bunga, melainkan memberi waktu bagi kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni untuk bekerja…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Data inflasi domestik menunjukkan deflasi 0,14 persen secara bulanan pada Juli dan inflasi tahunan turun menjadi 2,88 persen dari 3,34 persen pada Juni, dengan inflasi inti terkendali pada 2,76 persen.
Namun, tekanan eksternal dinilai masih signifikan karena indeks harga komoditas impor Juli naik 12,50 persen secara tahunan dan Rupiah tercatat terdepresiasi 10,53 persen.
“Dengan kata lain, inflasi saat ini jinak, tetapi risiko kenaikan harga akibat pelemahan Rupiah dan harga komoditas masih cukup besar. Ini memberikan alasan kuat untuk menahan, bukan memangkas suku bunga…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Josua juga mengingatkan pelebaran defisit transaksi berjalan yang diperkirakan mencapai 36,15 miliar Dolar AS atau 2,46 persen terhadap PDB sepanjang 2026, jauh membesar dibandingkan 0,11 persen terhadap PDB pada 2025.
Kondisi tersebut terjadi ketika surplus perdagangan menyusut, dengan ekspor triwulan II hanya tumbuh 4,13 persen sementara impor melonjak 8,82 persen.
“Permintaan Dolar dari aktivitas ekonomi meningkat lebih cepat daripada tambahan pasokan devisa dari ekspor…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Cadangan devisa turun dari 156,47 miliar Dolar AS pada akhir 2025 menjadi sekitar 145,3 miliar Dolar AS pada akhir Juli 2026, meski masih setara dengan 5,5 bulan impor, sehingga BI perlu berhati-hati dalam pengelolaan stabilitas Rupiah.
“BI memiliki amunisi yang cukup, tetapi tidak ideal apabila stabilisasi Rupiah terus dilakukan terutama dengan menjual cadangan devisa. Menahan BI-Rate pada 5,75 persen membantu mengurangi kebutuhan intervensi tersebut dengan mempertahankan daya tarik imbal hasil Rupiah…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.
Arus modal asing mulai membaik terutama ke Surat Berharga Negara dan instrumen SRBI, dengan kepemilikan nonresiden di SRBI naik dari sekitar Rp287,06 triliun pada akhir Juli menjadi Rp301,95 triliun per 13 Agustus.
Menurut Josua, daya tarik imbal hasil instrumen Rupiah penting bagi stabilitas nilai tukar sehingga pemangkasan BI-Rate terlalu dini berisiko mengurangi minat investor asing.
Dari sisi global, meredanya inflasi AS mengurangi tekanan untuk kenaikan suku bunga domestik, tetapi imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang masih tinggi di sekitar 4,7 persen menunjukkan risiko eksternal belum sepenuhnya hilang.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, Josua mempertahankan proyeksi BI-Rate di level 5,75 persen hingga akhir 2026.
“Menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi dan daya tarik instrumen Rupiah memberikan perbandingan manfaat dan biaya yang lebih baik dibandingkan menaikkan ataupun menurunkan BI-Rate…” kata Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata.





