Bahlil Dorong Multiplier Geothermal Percepat Target Net Zero

Jakarta, Maret.id — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah akan mempercepat implementasi target emisi nol bersih melalui pengembangan dan inovasi panas bumi sebagai salah satu sumber daya alam yang melimpah di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil pada Indonesia International Geothermal Conference and Exhibition (IGCE) 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, Rabu, 19 Agustus 2026.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo itu sudah memutuskan bahwa perubahan atau mengkonversi dari energi fosil kepada energi bersih bukan hanya menuju net zero emission, tetapi bagaimana kita meninggalkan warisan bumi kepada anak cucu kita yang lebih baik,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Bahlil mengungkapkan kesepakatan negara-negara dalam Paris Agreement mendorong Indonesia merealisasikan net zero emission pada periode 2050 hingga 2060.
Ia menyebut pemerintah telah menetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2035 dengan target 70 sampai 75 persen implementasi melalui bauran energi baru terbarukan.
“Mulai dari gas, mulai dari solar panel, mulai dari geothermal, mulai dari air, semuanya,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Bahlil menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan.
“Dan tahun ini kita akan sudah mulai di tahun 2025, 2026, kita akan mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Terkait lifting minyak dan gas, Bahlil menyebut produksi domestik saat ini berada di kisaran 600 sampai 610 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi nasional mencapai sekitar 1,5 sampai 1,6 juta barel per hari.
Upaya mengurangi ketergantungan impor juga dilakukan lewat perluasan penggunaan B50 yang saat ini diklaim mampu mengonversi sekitar 300 sampai 350 ribu barel per hari.
“Rata-rata kita masih membutuhkan impor kurang lebih sekitar 700 ribu barel per tahun. PLN itu membutuhkan kurang lebih sekitar 200 sampai 250 ribu barel, tergantung dia kalau gasnya habis, produksi dari energi baru terbarukan tidak ada, dia masuk lagi ke diesel (solar),” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Nah, cara-cara seperti ini, ketergantungan kita (terhadap impor migas), harus segera kita meminimalisir dalam rangka menuju kepada kedaulatan energi,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Bahlil menilai geothermal merupakan potensi sumber daya alam yang dapat dikelola untuk memperkuat pasokan listrik domestik sekaligus membuka peluang pengembangan sektor lain.
“Geothermal dalam pandangan saya tidak hanya pada konteks bagaimana kita meningkatkan kemampuan listrik kita di sektor geothermal. Tapi juga bagaimana kita mampu melakukan konversi untuk melahirkan ekonomi yang lain gitu loh supaya menciptakan lapangan pekerjaan,” tutur Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Di beberapa tempat itu sudah terjadi dengan pengeringan kopi, beberapa industri yang lain, petrokimia,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Saya pikir inilah bagian daripada kreativitas kita, jadi jangan persepsi kita bahwa geothermal itu hanya didorong untuk sektor kelistrikan. Harus ada multiplier effect-nya di situ yang akan kita lakukan,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.





