Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Tak Seindah Statistik: Lemah

Jakarta, Maret.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen dinilai perlu dicermati karena angka itu belum sepenuhnya ditopang oleh mesin utama perekonomian nasional dan justru mendapatkan dorongan signifikan dari belanja pemerintah.
Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45, mengatakan angka 5,61 persen secara statistik terlihat positif namun perlu ditelaah lebih jauh sumber-sumber pendorongnya.
“Secara statistik memang indah kita tumbuh 5,61 persen. Tapi kita mungkin bisa melihat kira-kira apa sih memang yang men-drive pertumbuhan menjadi 5,61 persen. Ini menjadi pertumbuhan yang paling besar dalam 13 tahun terakhir,” kata Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.
Menurut Nadia, perekonomian selama ini ditopang empat motor utama yaitu konsumsi, investasi, serta aktivitas internasional melalui ekspor dan impor, namun pertumbuhan terbaru tampak kuat didorong oleh government spending.
“Jika kita melihat ternyata memang pertumbuhan terbesar atau lihat kontribusinya terlihat dari government spending. Itu tinggi sekali di kuartal 1 mencapai 21,8 persen,” kata Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.
Nadia menekankan bahwa konsumsi masyarakat seharusnya menjadi motor utama dengan kontribusi sekitar 54,4 persen dan investasi perlu mendapat dorongan lebih besar agar pertumbuhan lebih berkelanjutan.
“Ini seharusnya dua indikator itu yang didorong, harus yang tumbuh pertumbuhannya responsif dan lebih besar. Tapi kenyataannya stagnan untuk dua indikator. Dan ini government spending, lagi-lagi berbagai program belanja-belanja,” kata Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.
Nadia juga mempertanyakan komposisi investasi yang dihitung, termasuk kemungkinan masuknya impor alat utama sistem persenjataan dalam perhitungan BPS, sehingga ia menilai perlu ada pemeriksaan lebih rinci terhadap komponen-komponen yang mendorong angka pertumbuhan.
Menurutnya, jika struktur pertumbuhan lebih banyak ditopang belanja pemerintah tanpa penguatan konsumsi dan investasi domestik, ada risiko keberlanjutan pertumbuhan menjadi terbatas di periode berikutnya.





