Investasi Rp2,6 Triliun Terancam Akibat Penutupan 1.300 SPPG

Jakarta, Maret.id — Penutupan permanen sekitar 1.300 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono berpotensi mengandaskan investasi masyarakat sedikitnya sekitar Rp2,6 triliun sekaligus mengancam pekerjaan sekitar 65 ribu orang.
Demikian disampaikan Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) Hamdi Putra, dikutip Kamis 20 Agustus 2026.
“Penutupan 1.300 SPPG dampaknya tidak lagi hanya menyangkut kelayakan dapur dan keamanan pangan, tetapi sudah merambah persoalan investasi, lapangan kerja, serta keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga,” kata Hamdi Putra, Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).
Perhitungan tenaga kerja tersebut sangat sederhana: jika satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mempekerjakan sekitar 50 orang, maka penutupan 1.300 SPPG menyangkut nasib 65.000 pekerja.
Artinya, apabila seluruh penutupan bersifat permanen dan para pekerjanya tidak dialihkan ke SPPG lain, sebanyak 65 ribu orang berpotensi kehilangan sumber pekerjaan dan pendapatan.
Angka itu bahkan belum memasukkan petani, peternak, pedagang bahan pangan, pengemudi, pemasok gas, jasa kebersihan, serta berbagai usaha lokal yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada operasional dapur MBG.
“Ketika sebuah dapur ditutup permanen, yang berhenti bukan hanya kompor dan kegiatan memasaknya. Arus penghasilan puluhan pekerja ikut berhenti,” kata Hamdi Putra, Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).
“Jika 65 ribu pekerja tersebut masing-masing menopang keluarga, dampak sosialnya bahkan dapat menjangkau ratusan ribu orang,” kata Hamdi Putra, Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).
“BGN tidak cukup hanya mengumumkan berapa dapur yang ditutup, tapi juga harus menjelaskan apa yang terjadi terhadap tenaga kerja di dalamnya: apakah dipindahkan, diserap SPPG lain, mendapat hak ketenagakerjaan, atau begitu saja kehilangan pekerjaan,” kata Hamdi Putra, Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).
Sebagian besar investasi SPPG berasal dari masyarakat atau mitra yang menanam modal untuk membangun atau merenovasi bangunan, membeli peralatan dapur industri, freezer, chiller, kendaraan, instalasi listrik, air bersih, IPAL serta berbagai fasilitas lain.
Penutupan tersebut diperkirakan mengancam investasi sedikitnya sekitar Rp2,6 triliun yang sudah tertanam di fasilitas-fasilitas itu.
Hamdi meminta BGN memberikan penjelasan rinci mengenai nasib tenaga kerja yang terdampak dan mekanisme proteksi ekonomi bagi pihak-pihak yang telah berinvestasi.
Tanpa langkah mitigasi dan kejelasan kebijakan, gangguan terhadap rantai pasokan makanan dan penghidupan lokal berpotensi memperburuk kerentanan sosial serta ekonomi di wilayah yang menjadi lokasi dapur MBG.





