Stok Minyak Dunia Ambles, Harga BBM Melonjak

Jakarta, Maret.id — Penutupan Selat Hormuz yang berlanjut memicu kekhawatiran pasar energi global karena jalur itu merupakan arteri utama pengiriman minyak dunia yang menghubungkan produsen besar dengan konsumen internasional. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa harga minyak dan bahan bakar berpotensi terus naik menjelang puncak permintaan musim panas akibat gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Gangguan Selat Hormuz Memperparah Ketidakpastian Pasokan
Selat Hormuz, sebagai rute strategis ekspor minyak, mengalami penutupan yang mengganggu aliran tanker dan distribusi energi global. Sementara pasar belum sepenuhnya merespons tekanan itu, pasokan saat ini masih ditopang oleh stok komersial, cadangan strategis negara, dan kapal tanker yang dalam perjalanan.
Namun para eksekutif industri memperingatkan bahwa dukungan tersebut bersifat sementara dan tidak akan berlangsung selamanya. Darren Woods, CEO Exxon Mobil, menyatakan bahwa cadangan yang ada hanya menunda dampak penuh dari gangguan jika kondisi terus berlanjut.
Cadangan Global Menipis, Proyeksi Menjadi Lebih Suram
Bank UBS memperkirakan total cadangan minyak global akan mendekati rekor terendah pada akhir Mei 2026, turun dari sekitar 8 miliar barel pada Februari menjadi diperkirakan 7,6 miliar barel. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya buffer yang selama ini membantu menstabilkan pasar saat terjadi gejolak pasokan.
Analis dari JPMorgan Chase menekankan bahwa dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar tersedia untuk dipergunakan tanpa mengganggu jaringan distribusi. Mereka memperkirakan hanya sekitar 800 juta barel yang bisa diambil tanpa merusak operasi pipa, tangki, dan logistik yang menjaga peredaran bahan bakar.
Risiko Sistemik pada Jaringan Distribusi
Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menggambarkan situasi ini layaknya aliran darah dalam tubuh manusia; masalah bukan sekadar habisnya minyak, melainkan berkurangnya volume yang diperlukan agar sirkulasi berjalan normal. Jika aliran itu terganggu, jaringan distribusi akan kesulitan mempertahankan operasi sehingga menciptakan efek domino pada ketersediaan bahan bakar.
JPMorgan memperkirakan cadangan minyak bisa turun ke angka sekitar 6,8 miliar barel pada September apabila Selat Hormuz tetap tertutup, sedangkan Rapidan Energy memperingatkan bahwa stok bahan bakar olahan dapat mencapai level kritis lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus. Ancaman langka pasokan olahan ini mencerminkan kerentanan infrastruktur transportasi yang dapat menghadapi kesulitan memperoleh bahan bakar meskipun pasar menawarkan harga tinggi.
Dampak pada Harga dan Aktivitas Ekonomi
Para analis menilai kemungkinan stok benar-benar habis masih rendah, tetapi proyeksi kenaikan harga yang tajam menjadi skenario lebih mungkin sebelum terjadi kekurangan fisik. Lonjakan harga diperkirakan akan menekan permintaan dan berpotensi memicu perlambatan ekonomi global yang berat sebelum kuartal ketiga 2026.
Respons pasar dan kebijakan pemerintah akan menentukan sejauh mana dampak berlanjut, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan strategis, penyesuaian pasokan melalui rute alternatif, atau upaya diplomatik untuk membuka kembali jalur pelayaran. Sementara itulah, tekanan pada harga dan kestabilan ekonomi tetap menjadi fokus pengamat energi dan pembuat kebijakan.





