Harga Emas Melesat Imbas Pelemahan Dolar AS, Isu Geopolitik

Jakarta, Maret.id — Pergerakan harga logam mulia dunia serempak mencatatkan tren positif pada perdagangan Senin 24 Agustus 2026. Harga emas spot naik 0,7 persen menjadi 4.636,34 Dolar AS per ons, menyentuh level tertingginya sejak 15 Mei. Sementara emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember menguat 0,3 persen ke posisi 4.694,80 Dolar AS per ons. Sentimen positif ini turut mengerek harga logam lainnya dengan harga perak spot melompat 0,8 persen menjadi 69,51 Dolar AS per ons, platinum menguat 0,4 persen menjadi 1.885,38 Dolar AS per ons, serta paladium naik tipis 0,1 persen ke level 1.350,53 Dolar AS per ons. Kenaikan harga logam kuning ini melanjutkan lonjakan lebih dari 5 persen pada pekan sebelumnya. Tren tersebut didorong oleh pelemahan nilai tukar Dolar AS akibat rencana Departemen Keuangan AS yang akan mendukung pembelian kembali obligasi, sehingga emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Juli serta pidato ketua The Fed di simposium Jackson Hole untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Prospek cerah emas juga ditopang oleh kuatnya fundamental permintaan global. Tingginya permintaan untuk opsi bullish membuat Goldman Sachs optimistis memproyeksikan harga emas berpotensi menembus 4.900 Dolar AS per ons pada akhir tahun. Daya tarik emas pada tingkat resmi terus meningkat, tercermin dari langkah bank sentral Polandia yang menambah cadangan emasnya dari 20,3 juta ons menjadi 20,6 juta ons pada akhir Juli. Status emas sebagai pelindung nilai (safe-haven) makin menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan dinamika perdagangan internasional. Sikap Iran yang menepis ancaman sanksi baru dari Amerika Serikat serta kebijakan tarif balasan yang diberlakukan oleh pemerintah Kanada terhadap produk AS turut memperkuat sentimen safe-haven. Kenaikan harga logam mulia ini berpotensi mendorong minat investor domestik untuk meningkatkan alokasi ke emas sebagai alat diversifikasi portofolio. Pelaku pasar dan otoritas keuangan di dalam negeri diperkirakan terus memantau perkembangan ini untuk menyesuaikan strategi investasi dan kebijakan cadangan devisa.





