Rupiah Ambles ke Rp17.675, Pernyataan Prabowo Picu Volatilitas

Jakarta, Maret.id — Rupiah tercatat melemah pada perdagangan pagi setelah pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto yang dianggap sebagian pelaku pasar memperburuk sentimen terhadap mata uang domestik.
Pergerakan Rupiah di Pasar
Berdasarkan catatan pasar pada pukul 10.30 WIB, rupiah tercatat melemah sekitar 79 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terekam bersamaan dengan penguatan dolar AS secara global dan kenaikan harga komoditas energi.
Pernyataan Presiden dan Reaksi Pasar
Pelemahan mata uang berlangsung setelah Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam sambutannya Presiden Prabowo menyatakan, “Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” yang kemudian menjadi sorotan pelaku pasar.
Tekanan di Pasar Modal
Tidak hanya rupiah yang terdampak, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun hingga 4,35 persen dan membukukan posisi di sekitar 6.431 pada perdagangan hari yang sama. Volatilitas di pasar saham mencerminkan respons investor yang mengkaji ulang risiko makroekonomi dan prospek perusahaan di tengah ketidakpastian nilai tukar.
Analisis Pengamat
Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menilai pernyataan Presiden turut memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah dan saham domestik. Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS juga dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan beban impor energi Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.
Pengamat itu mengatakan banyak masyarakat mulai mengalihkan tabungan ke valuta asing sehingga menambah tekanan pada rupiah. Ibrahim juga menyoroti bahwa candaan atau komentar yang dianggap meremehkan oleh petinggi negara dapat memperkuat sentimen negatif di kalangan investor.
Saran Kebijakan dan Langkah Pemerintah
Ibrahim menilai pemerintah perlu lebih agresif menyampaikan langkah konkret untuk menahan tekanan terhadap rupiah, termasuk pengendalian impor minyak dan strategi penanganan krisis. Ia menyarankan percepatan program substitusi energi seperti B50 yang dapat menjadi penopang permintaan bahan bakar domestik serta mengurangi ketergantungan impor.
Ia menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang jelas untuk meredam kepanikan pasar dan mendorong kepercayaan investor. Penyampaian rencana aksi serta target yang terukur disebutnya kunci agar sentimen negatif tidak berlanjut.
Persepsi Publik di Daerah
Ibrahim juga mengingatkan bahwa klaim bahwa masyarakat desa “tidak mengenal dolar” tidak lagi sepenuhnya relevan di era informasi saat ini. Menurutnya, kemajuan teknologi membuat masyarakat di daerah semakin paham terhadap perkembangan ekonomi, nilai tukar, dan instrumen investasi seperti saham.
Pengamatan tersebut menandai pergeseran demografis pelaku pasar yang kini lebih terhubung dan responsif terhadap berita ekonomi nasional maupun global. Oleh karena itu, komunikasi pejabat publik dinilai harus lebih berhati-hati dan mempertimbangkan dampak luas terhadap sentimen ekonomi.
Prospek ke Depan
Para pelaku pasar kini mencermati langkah-langkah kebijakan lanjutan dari pemerintah untuk menstabilkan rupiah dan meredam tekanan pada pasar saham. Perkembangan harga energi global dan kebijakan fiskal-moneter domestik diperkirakan akan menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa minggu mendatang.
Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan dan memberikan informasi yang transparan untuk menjaga keyakinan investor serta mencegah volatilitas yang berkelanjutan.





