Ekonomi

Kuota Impor Dikuasai, Pengusaha Sebut Harga Daging Mahal

Jakarta, Maret.id — Harga daging sapi di pasar domestik masih dinilai terlalu tinggi dan pengusaha menyebut penguasaan kuota impor sebagai salah satu penyebab utama terbatasnya pilihan pasokan. Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI), Marina Ratna DK, mengatakan kenaikan terutama terlihat pada daging knuckle asal India yang banyak digunakan untuk kebutuhan rendang. Saat ini, harga daging knuckle tercatat sekitar Rp128.000 per kilogram di tingkat distributor, naik dari Rp114.000 per kilogram pada Maret 2026. “Kenaikan harga berkisar 10-11 persen. Itu untuk daging knuckle India biasanya buat rendang, Maret Rp114.000, sekarang Rp128.000 di tingkat distributor anak perusahaan yang ditunjuk BUMN,” kata Marina Ratna DK, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI). Marina menilai tingginya harga tidak terlepas dari penguasaan kuota impor daging oleh perusahaan pelat merah. “Daging India 100 persen dikuasai BUMN kuotanya. Daging Brasil 100 persen juga sama dikuasai BUMN. Kalau kuotanya sudah dikuasai, otomatis harga pasar dikuasai mereka,” kata Marina Ratna DK, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI). Kondisi penguasaan kuota membuat pelaku usaha swasta kesulitan mencari alternatif pasokan saat pemasok utama menaikkan harga. Sejumlah negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Spanyol masih menjadi pilihan alternatif, namun sebagian besar kuota dialokasikan kepada pihak tertentu. “Alternatif dari Australia, NZ, USA, Spanyol, tapi itupun dikuasai BUMN 84 persen yang diberikan ke perusahaan tersebut. 16 persen atau 30.000 ton diberikan kepada 105 perusahaan importir,” kata Marina Ratna DK, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI). Menurut Marina, pembagian kuota yang demikian membuat persaingan pasokan menjadi tidak leluasa bagi importir lain. “Alternatif tersebut hampir tidak ada peluang, karena mereka secara sistematis telah berkoordinasi agar harga daging dikuasainya,” kata Marina Ratna DK, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI). Ia memperkirakan harga daging sapi saat ini berada sekitar 20-25 persen di atas tingkat harga yang dinilai obyektif. “Diperkirakan harga selisih 20-25 persen lebih tinggi dibandingkan harga obyektif jika pasar diserahkan dengan mekanisme pasar,” kata Marina Ratna DK, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI). Pernyataan Marina disampaikan pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button