BI Dorong Pembiayaan Swasta Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia mendorong peningkatan pembiayaan ke sektor produktif untuk memperkuat peran sektor swasta dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis menyatakan sektor swasta perlu diperkuat melalui dukungan pembiayaan di tengah perlambatan pertumbuhan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, melambat dari kuartal I/2026 yang tumbuh 5,61 persen namun masih lebih tinggi dibanding kuartal II/2025 sebesar 5,12 persen.
“Kalau mau mendorong pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari apa yang kita hadapi sekarang, yang terakhir 5,29 persen, itu memang kita harus mendorong sektor swasta,” ujar Alexander Lubis, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Menurut Lubis, stimulus pemerintah tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan, tetapi untuk mencapai level yang lebih tinggi kontribusi sektor swasta harus ditingkatkan melalui pembiayaan.
“Tentu pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh stimulus pemerintah, namun untuk bisa lebih tinggi lagi kita harus mendorong peran di sektor swasta, tentu upaya mendorong ini juga butuh pembiayaan,” ujar Alexander Lubis, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Alexander Lubis mengatakan perkembangan intermediasi perbankan turut berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, dengan pertumbuhan kredit perbankan per Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan dan kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 25,13 persen.
Pertumbuhan kredit tersebut, menurut Lubis, turut dipengaruhi oleh dinamika rasio undisbursed loan, yaitu kredit yang telah disetujui bank tetapi belum ditarik oleh debitur.
Berdasarkan catatan BI, undisbursed loan pada Mei 2026 tercatat Rp2.576 triliun atau sekitar 22,41 persen dari total plafon kredit yang tersedia, lalu turun menjadi Rp2.490 triliun atau 21,52 persen pada Juni 2026.
Namun angka tersebut kembali meningkat pada Juli 2026 menjadi Rp2.548 triliun atau sekitar 21,81 persen dari total plafon kredit.
“Perlu kita dorong terus loan-nya, karena untuk mengoptimalkan sektor-sektor produktif agar dampaknya kepada pertumbuhan ekonomi bisa dapat mengungkit lebih tinggi lagi pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Alexander Lubis, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Peningkatan penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif dinilai krusial untuk memperkuat investasi domestik dan mengurangi ketergantungan pada stimulus fiskal sebagai pendorong utama pertumbuhan.





