Ramalan Ekonom: Destry Masuk, Rupiah Diprediksi Tetap Lemah

Jakarta, Maret.id — Penetapan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai Gubernur BI diperkirakan tidak akan memberi dampak signifikan terhadap penguatan nilai tukar rupiah yang masih terdepresiasi.
Destry Damayanti sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
“Kepemimpinan BI sudah berganti, dan pemimpin baru akan menjadi nakhoda BI sampai lima tahun mendatang; apakah kepemimpinan BI sekarang akan mengubah posisi Rupiah menjadi lebih stabil dan lebih kuat dari sebelumnya? Jawabnya sulit dan bahkan hampir tidak bisa,” ujar Prof Didik J. Rachbini, Ekonom Senior dan Rektor Universitas Paramadina.
Prof Didik menyatakan faktor utama tren melemahnya rupiah adalah pola kebijakan yang diperkirakan bakal berjalan secara business as usual.
“Banyak faktor lain eksternal dan internal BI yang tetap menjadi kendala sektor moneter, dan kepemimpinan baru memang tidak mungkin bisa mengubah faktor-faktor yang menjadi kendala selama ini,” ujar Prof Didik J. Rachbini, Ekonom Senior dan Rektor Universitas Paramadina.
Ia juga menilai besarnya pasar domestik Indonesia selama ini tidak otomatis menjamin ketahanan ekonomi nasional, yang tercermin dari loyonya nilai tukar rupiah.
“Jadi kepemimpinan baru saya prediksi tidak akan banyak mengubah sistem moneter, dan Rupiah seperti biasanya tetap akan lemah,” ujar Prof Didik J. Rachbini, Ekonom Senior dan Rektor Universitas Paramadina.
Keterangan tersebut disampaikan Prof Didik pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Pandangan ekonom senior ini menekankan bahwa tantangan eksternal seperti dinamika pasar keuangan global dan tekanan dari neraca transaksi berjalan, serta kendala struktural domestik, tetap menjadi faktor penentu arah rupiah.
Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan akan tetap sensitif terhadap sentimen global dan langkah-langkah kebijakan fiskal dan struktural yang diambil pemerintah dan otoritas moneter.





