Nilai Tukar Rupiah Tertekan Imbas Memanasnya Konflik AS

Jakarta, Maret.id — Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.722 per dolar AS, melemah 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
“Penguatan indeks dolar AS dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
Pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada Minggu waktu setempat.
Serangan tersebut menjadi serangan pertama yang diketahui dilakukan AS terhadap wilayah Teluk sejak akhir Juli.
Sebagai respons, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, sebagaimana dilaporkan media Iran.
“Negosiasi untuk mengakhiri konflik ini sedang menemui jalan buntu,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
Di Simposium Jackson Hole, Kevin Warsh, mantan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve AS, menekankan pentingnya stabilitas harga sebagai fokus utama bank sentral AS.
“The Fed masih perlu memastikan inflasi inti bergerak menuju target 2 persen,” kata Kevin Warsh, mantan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve AS.
“Kondisi keuangan saat ini belum dapat dikategorikan sebagai kondisi yang restriktif karena pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda pengetatan kebijakan moneter,” kata Kevin Warsh, mantan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve AS.
“Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
“Dari dalam negeri ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN),” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
“Kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
Hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat sekitar Rp233 triliun.
Nilai tersebut diperkirakan terus meningkat hingga Rp526 triliun pada akhir tahun.
Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun.
“Besarnya risiko tersebut tidak terlepas dari harga energi global, nilai tukar rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
“Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas.
Pergerakan pasar saham domestik justru berada di zona positif dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 7,36 poin atau 0,11 persen ke level 6.525,48.
Volume perdagangan mencapai 48,76 miliar saham dengan nilai transaksi Rp24,69 triliun, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,37 juta kali, dan kapitalisasi pasar mencapai Rp11.423 triliun.
Sebanyak 413 saham bergerak menguat, 245 saham melemah, dan 305 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Dari 11 indeks sektoral, delapan sektor ditutup di zona hijau dengan penguatan tertinggi pada sektor industri sebesar 1,46 persen, diikuti sektor energi 1,12 persen dan sektor keuangan 0,67 persen.





