Awal September Rupiah Melemah ke Rp17.724 per Dolar AS

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar (kurs) Rupiah melemah pada perdagangan awal bulan, Selasa 1 September 2026.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah bergerak ke Rp17.724 per Dolar AS, melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks Dolar AS menjadi salah satu pendorong pelemahan Rupiah.
“Negosiasi untuk mengakhiri konflik ini sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang dan komoditas.
Menurut Ibrahim, ketegangan di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mentah yang berdampak pada kondisi fiskal negara.
“Dari dalam negeri ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN),” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang dan komoditas.
Ia mengatakan kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan mereformasi skema subsidi serta kompensasi energi.
Hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat sekitar Rp233 triliun dan diperkirakan meningkat menjadi Rp526 triliun pada akhir tahun.
Nilai tersebut menunjukkan potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal APBN yang sekitar Rp338 triliun.
“Besarnya risiko tersebut tidak terlepas dari harga energi global, nilai tukar Rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang dan komoditas.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720 – Rp17.780,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang dan komoditas.
Ketidakpastian di kawasan itu berpotensi menambah volatilitas pasar keuangan global dan memberi tekanan pada nilai tukar negara-negara berkembang.





