GREAT: Surplus Beras Tidak Menjamin, El Nino Ancam Pasokan

Jakarta, Maret.id — GREAT Institute memperingatkan potensi tekanan pada ketahanan pangan meski kondisi produksi nasional menunjukkan perbaikan dibanding episode El Nino 2023-2024.
Peringatan itu disampaikan dalam acara GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme.
GREAT menilai ketahanan pangan Indonesia saat ini lebih kuat dibanding episode El Nino 2023-2024 namun surplus nasional tidak otomatis menghapus kerentanan produksi di tiap daerah.
Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton sementara proyeksi kebutuhan konsumsi domestik oleh Bapanas sebesar 31,2 juta ton sehingga terdapat surplus lebih dari 3,5 juta ton.
Pemerintah tidak melakukan impor beras umum pada 2025 dan masih memproyeksikan tidak melakukan impor pada 2026.
“Produksi maupun cadangan beras kita memang masih berada dalam kategori aman,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
“Bantalan nasional dari surplus beras 2025 bisa memberi pemerintah ruang gerak yang jauh lebih baik dibanding episode El Nino 2023-2024,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
“Namun, ketepatan mitigasi pada produksi padi tetap diperlukan, terutama dalam mengantisipasi dampak kekeringan yang berbeda antarwilayah,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Selasa 1 Agustus 2026.
GREAT mencatat bahwa pada El Nino 2023-2024 enam provinsi—Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Maluku, dan Maluku Utara—mengalami kontraksi produksi lebih dari 10 persen akibat berkurangnya luas panen.
Sementara itu, sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat mengalami kehilangan volume yang lebih besar secara nasional meski persentase penurunannya lebih kecil.
Jawa Tengah, misalnya, kehilangan sekitar 736.000 ton dibandingkan periode baseline.
Pemantauan BMKG pada Agustus 2026 menunjukkan curah hujan rendah telah mendominasi lebih dari 90 persen wilayah Indonesia.
“Kita sudah mengetahui intensitas risiko El Nino tahun ini dan kita tidak dapat menghilangkan risiko tersebut,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
“Fokus kita saat ini harus diarahkan pada kesiapan infrastruktur irigasi dan distribusi sarana produksi pertanian ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
“Ketepatan dalam eksekusinya menjadi semakin penting terutama bagi wilayah yang sedang memasuki periode tanam berikutnya,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
Pemerintah telah menjalankan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, program pompanisasi, serta penyediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam 2026.
Selain aspek produksi, GREAT meminta pemerintah menjaga stabilitas harga beras agar dampak El Nino tidak semakin membebani masyarakat, khususnya rumah tangga rentan.
“Kami mengimbau agar pemerintah juga fokus pada stabilitas harga beras,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute dan Dosen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan IPB.
“Kenaikan harga beras ketika risiko iklim kian terasa dapat menggeser anggaran rumah tangga ke pangan dan mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan lainnya,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute dan Dosen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan IPB.
“Tekanan tersebut akan paling berat dirasakan rumah tangga rentan karena mereka memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyesuaikan pengeluaran,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute dan Dosen Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan IPB.
GREAT merekomendasikan pemerintah memprioritaskan Cadangan Beras Pemerintah dan sarana produksi di wilayah rentan, memperkuat pemetaan kerentanan produksi, serta meningkatkan pemantauan harga beras di tingkat daerah.
“Kinerja produksi beras adalah pencapaian penting yang memberi Indonesia posisi jauh lebih kuat dalam memasuki episode ini dibanding 2023-2024 lalu,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.
“Tapi justru karena posisi nasional sudah kuat, pemerintah tidak boleh abai terhadap kerentanan yang berbeda antarwilayah, yang kerap luput dari angka agregat, sekaligus menjaga stabilitas harga selama episode kali ini berlangsung,” ujar Dr. Hastuti, Ekonom GREAT Institute.





