Ekonomi

Kenaikan Suku Bunga 25 bps, Dolar Diprediksi Melejit

Jakarta, Maret.id — Indeks Dolar AS (DXY) mencatatkan performa mingguan terbaik dalam tiga bulan terakhir di pasar uang New York, meski penguatan greenback tertahan pada level sekitar 99,13 saat pelaku pasar mulai menghitung ulang dua sentimen utama yang memengaruhi arah pasar global.

Reli Dolar yang sempat didorong oleh lonjakan imbal hasil (yield) surat berharga AS kehilangan momentum setelah beredarnya laporan tentang kemungkinan pelonggaran sementara sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang membuka ruang gerak bagi mata uang lain.

Dinamika Dolar dan Respons Pasar

Pasar merespons berita pelonggaran sanksi itu dengan mengendurkan tekanan pada Dolar, sehingga Euro menanjak tipis ke level sekitar 1,1636 Dolar AS dan Poundsterling menguat 0,66 persen ke kisaran 1,3409 Dolar AS.

Namun kenaikan mata uang Eropa itu dihadapkan pada risiko yang tetap ada dari harga minyak dunia, yang dalam beberapa hari terakhir menempel di level tertinggi dalam dua pekan dan dipandang sebagai potensi pemicu inflasi global.

Sorotan ke Federal Reserve

Di luar faktor geopolitik, perhatian pasar kini tertuju pada dinamika internal Federal Reserve dan spekulasi terkait kepemimpinan lembaga itu, termasuk nama-nama yang muncul sebagai kandidat pimpinan baru seperti Kevin Warsh.

Sejumlah analis melihat pelemahan Dolar belakangan ini sebagai bagian dari mekanisme pasar untuk “menguji nyali” calon pemimpin The Fed dan sejauh mana komitmen bank sentral terhadap independensi kebijakan moneter akan terjaga.

Probabilitas Kenaikan Suku Bunga

Perdagangan harga mencerminkan adanya kemungkinan kembalinya tekanan moneter, dengan kalkulasi pasar yang menunjukkan peluang sekitar 51 persen bahwa The Fed bisa menaikkan suku bunga sebelum Desember, suatu skenario yang berpotensi mengangkat kembali indeks DXY.

Peluang tersebut menjadi faktor penentu bagi aliran modal global, di mana ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung menguatkan permintaan terhadap aset berdenominasi Dolar.

Tekanan Mata Uang Asia dan Intervensi

Sementara Dolar terkonsolidasi terhadap mata uang Eropa, di Asia situasinya berbeda karena Yen Jepang terus melemah hingga menyentuh sekitar 158,99 per Dolar AS, posisi terlemah sejak akhir April.

Upaya intervensi pasar besar-besaran oleh otoritas Jepang belum mampu membendung pelemahan Yen, yang semakin tertekan oleh berita bahwa Tokyo mempertimbangkan penerbitan utang baru untuk membiayai anggaran tambahan akibat dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah.

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan fiskal di Jepang menegaskan mengapa Dolar masih memegang posisi kuat di kawasan Asia, terutama di tengah arus modal yang mencari aset safe haven dan imbal hasil yang lebih menarik.

Implikasi bagi Inflasi dan Pasar Global

Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan inflasi global, yang pada gilirannya memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter bank-bank sentral utama di dunia.

Pembacaan data inflasi dan keputusan kebijakan moneter mendatang akan menjadi titik fokus berikutnya bagi pelaku pasar saat menilai arah lanjutan indeks DXY dan stabilitas mata uang regional.

Untuk sementara, investor akan terus memantau perkembangan diplomasi terkait Iran, kebijakan sanksi, serta sinyal-sinyal dari Washington mengenai kemungkinan langkah kebijakan moneter yang lebih hawkish, yang semuanya akan menentukan ritme volatilitas pasar ke depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button