Bursa Eropa Melemah Tertekan Kenaikan Obligasi dan Inflasi

Jakarta, Maret.id — Bursa ekuitas Eropa ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 1 September 2026 waktu setempat, tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah serta data inflasi zona Euro yang kembali menguat di atas 3 persen akibat kenaikan biaya energi.
Kondisi pasar memperbesar ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 turun 0,56 persen ke posisi 647,46 dan mencatat level terendah dalam lebih dari sebulan.
Penurunan juga melanda bursa utama lainnya dengan DAX Jerman merosot 1,1 persen, CAC 40 Prancis terkoreksi 0,39 persen, dan FTSE 100 Inggris melemah 0,32 persen.
Lonjakan imbal hasil obligasi terjadi seiring aksi jual surat utang global, di mana yield obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam 15 tahun dan Prancis menyentuh level tertinggi sejak 2008.
Pasar energi juga memberikan tekanan setelah kenaikan harga gas alam Eropa disebabkan oleh kekhawatiran gangguan pasokan menyusul ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, sektor energi justru menguat 1,8 persen seiring harga minyak mentah Brent kembali berada di atas 92 Dolar AS per barel.
Beberapa saham menunjukkan pergerakan tajam, di mana saham Novartis melambung 6,3 persen setelah laporan uji klinis obat yang sukses.
Saham Reckitt Benckiser melonjak 4,4 persen menyusul kemenangan hukum di Amerika Serikat.
Sementara itu, saham Partners Group anjlok 7,3 persen menyusul pengumuman pergantian CEO dan proyeksi penurunan pendapatan.
Kenaikan imbal hasil dan data inflasi yang lebih kuat menambah tekanan pada saham-saham sensitif suku bunga serta meningkatkan biaya pembiayaan bagi perusahaan.
Ketidakpastian pasokan energi global dan prospek pengetatan kebijakan moneter diperkirakan akan mempertahankan volatilitas pasar hingga keputusan ECB berikutnya.





