Ekonomi

Harga Minyak Melonjak, Beban Fiskal Negara Meningkat

Jakarta, Maret.id Lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah sepanjang 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kondisi itu terjadi meski penerimaan negara sejauh ini masih cukup kuat dan berada di atas target.

Saat APBN 2026 disusun, pemerintah belum memperhitungkan dinamika konflik geopolitik yang memicu gejolak harga komoditas global, menurut Purbaya.

Asumsi harga minyak dalam APBN awalnya dipatok 65 Dolar AS per barel, namun kenyataannya sekarang rata-ratanya mendekati 90 Dolar AS per barel.

“Penerimaan kuat di atas perkiraan, tapi beban juga meningkat signifikan. Waktu kita desain APBN belum ada perang, asumsi minyak 65 Dolar AS per barel. Tapi tahu-tahu harga naik, sekarang rata-ratanya hampir 90 Dolar AS,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya mengatakan lonjakan harga tersebut berimbas langsung pada alokasi belanja negara sehingga pemerintah mengandalkan APBN sebagai penyangga agar dampak tidak langsung memukul daya beli masyarakat.

“Otomatis belanja meningkat karena kita mau absorb gejolak dari global supaya tidak mengganggu masyarakat. Sehingga defisitnya meningkat,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Kendati tekanan fiskal meningkat, Purbaya menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN agar tidak melampaui batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto.

“Saya harus menjaga defisit tetap di bawah 3 persen at all cost. Kalau nanti menjelang akhir tahun tiba-tiba naik, saya akan potong belanja-belanja yang tidak perlu,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button