IHSG Ambles, OJK: Kunjungan Dasco Picu Sentimen

Jakarta, Maret.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tekanan yang melanda pasar saham domestik masih bersifat moderat meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan dalam beberapa hari terakhir.
Dinamika Pasar dan Faktor Eksternal
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan pergerakan IHSG akhir-akhir ini sejalan dengan tren di bursa regional.
Ia menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter global yang masih ketat sebagai faktor utama tekanan pasar.
Friderica juga menyebut beberapa bursa saham kawasan mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan IHSG.
Sementara beberapa pasar yang menguat hanya menunjukkan kenaikan tipis pada periode yang sama.
Pengaruh Rebalancing MSCI
Selain faktor global, OJK mencatat sentimen domestik yang muncul setelah pengumuman rebalancing indeks MSCI pada 13 Mei 2026 turut mempengaruhi pergerakan IHSG.
Menurut Friderica, keputusan tersebut memicu aksi rebalancing portofolio yang kemudian menambah volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Pada perdagangan pertama pasca-pengumuman MSCI, IHSG tercatat turun 1,98 persen.
IHSG kembali melemah 1,85 persen pada perdagangan 18 Mei 2026 setelah libur panjang, yang menunjukkan tekanan berkelanjutan meski masih dalam kisaran moderat.
Kunjungan Wakil Ketua DPR ke BEI
Kunjungan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, ke Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) terjadi di tengah tekanan besar terhadap indeks saham.
Kunjungan yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026 itu ikut melibatkan CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani dan COO Danantara Dony Oskaria.
Kedatangan rombongan ke lantai atas Gedung BEI sempat disambut dengan komentar singkat dari Dasco yang bercanda menanyakan kondisi pasar.
Namun, tak lama setelah kunjungan tersebut, tekanan jual kembali meningkat dan IHSG sempat merosot hampir tiga persen pada sesi perdagangan siang.
Respons OJK terhadap kondisi ini menekankan perlunya pemantauan berkelanjutan terhadap arus modal dan sentimen pasar.
Friderica menegaskan bahwa OJK akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Analisis singkat pelaku pasar menyebut kombinasi sentimen eksternal dan domestik mendorong aksi jual dari investor yang melakukan penyesuaian portofolio.
Para pelaku pasar juga mencatat bahwa koreksi moderat dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang yang menilai fundamental ekonomi masih kuat.
Meski demikian, ketidakpastian global dan langkah-langkah kebijakan moneter di negara maju tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi.
OJK dan pihak terkait di pasar modal diharapkan terus memberikan transparansi dan informasi yang memadai agar pelaku pasar dapat membuat keputusan investasi yang rasional.
Pemantauan terhadap capaian perekonomian makro dan data fundamental korporasi akan menjadi kunci bagi pemulihan kepercayaan pasar.
Sementara itu, pelaku pasar diminta waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global yang dapat mempengaruhi aliran modal ke Indonesia.





