Presiden Club Dorong Peningkatan Talenta Digital di Indonesia

Jakarta, Maret.id — Dalam era di mana kecerdasan buatan (AI) semakin mendominasi, Indonesia dihadapkan pada peluang dan tantangan besar. Potensi ekonomi digital yang masif di tanah air harus diimbangi dengan upaya untuk tidak hanya menjadi pasar bagi industri AI global, tetapi juga menjadi salah satu pemain kunci di dalam rantai pasok dunia. Hal ini menjadi tema utama diskusi dalam forum bertajuk “Peta Jalan AI Indonesia untuk Kedaulatan Digital dan Ketahanan Nasional” yang diselenggarakan oleh President Club di Jakarta.
Pentingnya Pengembangan Talenta Digital
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya membangun ekosistem industri AI di Indonesia. Ia menyatakan bahwa saat ini, Indonesia belum sepenuhnya terintegrasi dalam rantai pasok global sehingga diperlukan upaya terpadu untuk mencapai kemandirian dalam industri ini. “Kita harus mulai membangun dari sekarang,” tegas Nezar di hadapan lebih dari seratus peserta yang terdiri dari pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintahan.
Nezar juga menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam bentuk bonus demografi dengan cukup banyak tenaga kerja. Namun, untuk memenuhi kebutuhan sekitar 12 juta tenaga kerja dengan kompetensi digital pada tahun 2030, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia memaparkan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan perusahaan teknologi global sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Kerja Sama Strategis untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Sebagai langkah konkrit dalam upaya mengembangkan talenta digital, pada forum tersebut dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Yayasan Pendidikan Universitas Presiden dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Penandatanganan MoU ini bertujuan untuk memperkuat pengembangan talenta digital di Indonesia, terutama di kalangan mahasiswa Universitas Presiden.
“Saya sangat menghargai kerja sama ini. Tidak ada negara maju yang berhasil hanya dengan pemerintah. Inovasi besar lahir dari ekosistem,” ungkap Setyono Djuandi Darmono, Founder President University, selama acara tersebut. Dia menambahkan bahwa pendidikan harus terhubung dengan dunia industri untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan zaman.
Diskusi Panel untuk Membangun Kolaborasi Nyata
Sesi diskusi panel yang dimoderatori oleh Benardinus Boyke Rachmanda mengangkat berbagai isu strategis terkait AI nasional, seperti implementasi Peta Jalan AI Nasional, pengembangan riset, dan tantangan etika yang dihadapi dalam keamanan digital. Diskusi ini diikuti oleh sejumlah panelis yang berpengalaman di bidangnya, termasuk dari BPSDM dan lembaga penelitian.
Salah satu momen menarik muncul ketika Sayed Musaddiq menekankan perlunya percepatan implementasi AI di Indonesia melalui program konkret. Andrie Tjioe, dari PT ASIX Indonesia Cerdas, berpendapat bahwa pelatihan AI untuk guru perlu digalakkan untuk melahirkan talenta digital sejak dini. Ia menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dalam menyediakan fasilitas pelatihan, tetapi mengingat pentingnya dukungan dari berbagai pihak.
Saran mengenai pelatihan hybrid juga mendapat sambutan hangat dari peserta lain, membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pelatihan dan pengembangan talenta digital di tanah air. Acara ini tidak hanya menjadi ajang bertukar pikiran, tetapi juga menandai lahirnya potensi kolaborasi strategis di masa depan.
Melalui upaya sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan industri, diskusi ini memunculkan harapan bahwa Indonesia dapat membangun ekosistem AI yang kompetitif dan berkelanjutan, mendukung kedaulatan digital dan ketahanan nasional yang semakin penting di era digital ini. Semoga momentum ini menjadi awal dari langkah-langkah nyata untuk merealisasikan potensi yang ada di Indonesia.





